Ahli Neurologi Ungkap Cara Menjaga Otak Tetap Sehat Saat Menua Tanpa Bergantung pada Diet
Jumlah manusia yang mencapai usia 100 tahun terus meningkat di berbagai negara. Kondisi tersebut membuat perhatian terhadap kesehatan otak semakin besar, terutama karena risiko gangguan kognitif seperti demensia ikut meningkat seiring bertambahnya usia.
Baca Juga “Diet yang Gagal Tidak Selalu Sia-sia, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh“
Studi yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet pada 2022 memperkirakan jumlah kasus demensia global dapat meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2050. Perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor penting yang dapat membantu menjaga fungsi otak dalam jangka panjang.
Ahli neurologi dari NYU Langone, Amerika Serikat, dokter Jinsy Andrews, menjelaskan bahwa kebiasaan hidup sedentari dan konsumsi makanan olahan dalam jumlah tinggi dapat meningkatkan risiko Alzheimer serta berbagai penyakit neurodegeneratif lainnya.
“Di antara kami para ahli neurologi, kami benar-benar mencoba memikirkan cara untuk melindungi otak dan melakukan modifikasi gaya hidup yang dapat menunda atau mencegah demensia,” ujar Andrews, dikutip dari Business Insider.
Menurutnya, menjaga kesehatan otak tidak hanya berkaitan dengan makanan dan aktivitas fisik. Faktor emosional juga memiliki peran besar dalam mempertahankan fungsi kognitif ketika seseorang memasuki usia lanjut.
Kesehatan Emosional Berperan dalam Menjaga Fungsi Otak
Selama ini, pola makan sehat dan olahraga sering menjadi fokus utama dalam pembahasan kesehatan otak. Namun, Andrews menilai ada aspek lain yang tidak kalah penting, yaitu kesejahteraan emosional.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa isolasi sosial dan depresi berkaitan dengan peningkatan risiko Alzheimer. Meskipun hubungan langsung antara keduanya masih terus diteliti, kondisi emosional diketahui dapat memengaruhi proses biologis yang berhubungan dengan kesehatan otak.
Berbeda dengan aktivitas fisik atau pola makan yang lebih mudah diukur, kesehatan emosional sering kali sulit dikenali. Banyak orang bahkan belum memahami aktivitas atau hubungan sosial yang benar-benar membuat mereka merasa bahagia.
“Sungguh menakjubkan betapa banyak orang yang bahkan tidak memikirkannya [kebahagiaan],” kata Andrews.
Ia menilai kesadaran terhadap kebahagiaan dan kepuasan hidup dapat menjadi bagian dari strategi menjaga kesehatan otak. Mengenali aktivitas yang memberikan rasa nyaman dapat membantu seseorang mengelola stres dan menjaga keseimbangan emosional.
Dua Cara Sederhana Menjaga Otak Tetap Aktif dan Sehat
Andrews menyebutkan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam mencapai kebahagiaan. Namun, terdapat beberapa kebiasaan yang dapat membantu meningkatkan kesehatan emosional sekaligus menjaga kemampuan otak.
Dua langkah yang disarankan adalah membangun hubungan sosial berkualitas dan melakukan aktivitas kreatif secara rutin.
1. Bangun Interaksi Sosial yang Berkualitas
Hubungan sosial telah lama dikaitkan dengan umur panjang dan kesehatan otak. Namun, Andrews menekankan bahwa tidak semua bentuk interaksi memberikan manfaat yang sama.
Interaksi sosial yang berkualitas, terutama melalui hubungan langsung dengan orang lain, dapat membantu menjaga kesehatan mental. Sebaliknya, interaksi negatif yang berulang, termasuk melalui media sosial, dapat meningkatkan risiko stres, isolasi sosial, dan depresi.
“Terutama saat ada interaksi negatif secara online. Hal itu dapat meningkatkan isolasi sosial dan depresi,” ujar Andrews.
Menurutnya, penggunaan media sosial perlu dilakukan secara bijak. Aktivitas digital yang tidak sehat dapat menggantikan interaksi nyata dan berpotensi mengurangi manfaat hubungan sosial bagi kesehatan emosional.
Bertemu keluarga, berbicara dengan teman, mengikuti komunitas, atau menjalani kegiatan bersama orang lain dapat menjadi cara sederhana untuk menjaga otak tetap aktif.
2. Rangsang Otak Melalui Aktivitas Kreatif
Menjaga otak tetap aktif tidak selalu harus dilakukan melalui latihan kognitif seperti teka-teki silang. Andrews menjelaskan bahwa berbagai aktivitas kreatif juga dapat memberikan manfaat bagi fungsi otak.
Membaca buku, mendengarkan musik, membuat kerajinan tangan, atau menjalankan hobi kreatif lainnya dapat merangsang berbagai bagian otak. Aktivitas tersebut membantu mempertahankan kemampuan adaptasi otak atau neuroplastisitas.
“Berbagai aktivitas [kreatif] yang baik seperti membuat kerajinan tangan dapat meningkatkan sirkuit dan menjaga agar semuanya tetap segar dan baru,” jelas Andrews.
Neuroplastisitas merupakan kemampuan otak untuk membentuk koneksi baru dan menyesuaikan diri terhadap pengalaman. Kemampuan tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga fungsi kognitif seiring bertambahnya usia.
Selain memberikan stimulasi mental, aktivitas kreatif juga dapat membantu mengurangi stres. Hobi yang menenangkan dapat membuat seseorang lebih rileks dan menjaga kondisi emosional tetap stabil.
Mengelola Stres Juga Penting untuk Perlindungan Otak
Stres kronis dalam jangka panjang dapat memberikan dampak negatif terhadap tubuh, termasuk sistem saraf. Kondisi tersebut dapat meningkatkan penanda inflamasi yang berpotensi memengaruhi kesehatan otak.
Karena itu, menjaga keseimbangan antara aktivitas, istirahat, hubungan sosial, dan kegiatan yang menyenangkan menjadi bagian penting dalam strategi menjaga fungsi otak.
Andrews menilai pendekatan terbaik bukan hanya berfokus pada satu kebiasaan tertentu. Kesehatan otak dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari aktivitas fisik, pola makan, kualitas tidur, hubungan sosial, hingga kondisi emosional.
Melatih otak melalui berbagai aktivitas juga dapat membantu mempertahankan kemampuan berpikir. Semakin beragam stimulasi yang diterima otak, semakin banyak jaringan saraf yang tetap aktif.
Menjaga Otak Sehat Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Penuaan merupakan proses alami yang tidak dapat dihentikan. Namun, berbagai kebiasaan sehari-hari dapat membantu memperlambat penurunan fungsi kognitif dan mendukung kesehatan otak dalam jangka panjang.
Menurut para ahli neurologi, menjaga otak tetap sehat tidak hanya bergantung pada diet tertentu. Membangun hubungan sosial yang positif, melakukan aktivitas kreatif, mengelola stres, dan menemukan hal yang membuat hidup bermakna juga menjadi bagian penting.
Dengan meningkatnya jumlah populasi lanjut usia di dunia, kesadaran terhadap kesehatan otak menjadi semakin penting. Perubahan kecil dalam gaya hidup sejak dini dapat membantu seseorang mempertahankan kemampuan berpikir dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik saat memasuki usia lanjut.
Baca Juga “8 Manfaat Greek Yogurt untuk Kesehatan Tubuh dan Mental, Tinggi Kandungan Protein“