ATURAN PEMBERIAN SUPLEMEN ZAT BESI UNTUK ANAK DI ATAS 2 TAHUN
ANAK DI ATAS 2 TAHUN MASIH MEMBUTUHKAN ZAT BESI
Banyak orang tua menganggap kebutuhan zat besi anak menurun drastis setelah usia 2 tahun. Namun, dokter menegaskan bahwa zat besi tetap penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama fungsi kognitif dan daya tahan tubuh.
Dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi, dr. Lucky Yogasatria Sp.A, menjelaskan bahwa kebutuhan zat besi tidak dihentikan, melainkan pola pemberiannya yang berubah. Hal ini disampaikan dalam acara kampanye #ZatBesiPasBekerjaCerdas di Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2026).
Baca Juga “Studi Sebut Multivitamin Perlambat Penuaan Tubuh Alami“
Menurutnya, zat besi tetap diperlukan meskipun tidak lagi diberikan setiap hari seperti pada masa bayi.
POLA PEMBERIAN SUPELIMEN ZAT BESI YANG DIREKOMENDASIKAN
Untuk anak usia di atas 2 tahun, pemberian suplemen zat besi tidak dilakukan setiap hari. Rekomendasi medis menyebutkan pemberian dilakukan dua kali dalam seminggu selama tiga bulan, dan dapat diulang setiap tahun sesuai kebutuhan anak.
Perubahan pola ini disesuaikan dengan perkembangan fisiologis anak yang sudah lebih stabil dibandingkan masa bayi.
“Setelah anak dua tahun, tetap diberikan, tapi tidak setiap hari,” ujar dr. Lucky Yogasatria Sp.A.
Ia menjelaskan bahwa pada usia ini, kebutuhan zat besi memang mulai menurun dibandingkan masa sebelumnya.
ALASAN KEBUTUHAN ZAT BESI BERUBAH SETELAH USIA 2 TAHUN
Ada beberapa alasan medis mengapa pola suplementasi zat besi berubah setelah anak berusia 2 tahun. Pertama, kapasitas lambung anak sudah lebih besar sehingga mampu menerima variasi makanan yang lebih luas.
Kedua, kebutuhan zat besi harian menurun dari sekitar 11 mg pada usia di bawah 2 tahun menjadi sekitar 7–8 mg setelah usia tersebut.
Pada masa di bawah 2 tahun, perkembangan otak berlangsung sangat cepat sehingga kebutuhan zat besi lebih tinggi untuk mendukung pembentukan jaringan saraf.
“Karena di bawah 2 tahun, otaknya berkembang sangat cepat sehingga kebutuhan zat besi lebih tinggi,” jelasnya.
SUMBER ZAT BESI DARI MAKANAN SEHARI-HARI
Kebutuhan zat besi anak sebenarnya dapat dipenuhi dari makanan sehari-hari. Beberapa sumber zat besi hewani yang mudah diserap tubuh antara lain hati ayam, hati sapi, daging ayam, dan daging sapi.
Selain sumber hewani, zat besi juga dapat diperoleh dari makanan lain yang dikombinasikan dengan asupan vitamin C agar penyerapan lebih optimal.
Namun dalam praktiknya, asupan dari makanan sering kali belum mencukupi kebutuhan harian anak secara konsisten.
PENTINGNYA SUPLEMENTASI SEBAGAI PENCEGAHAN ANEMIA
Karena kebutuhan zat besi tidak selalu terpenuhi hanya dari makanan, suplementasi tetap dianjurkan sebagai langkah pencegahan anemia defisiensi besi pada anak.
Kondisi kekurangan zat besi dapat berdampak pada penurunan konsentrasi, gangguan tumbuh kembang, serta menurunnya daya tahan tubuh.
Oleh karena itu, pemantauan asupan zat besi menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan anak secara menyeluruh.
PENUTUP: PERAN ORANG TUA DALAM MEMANTAU KEBUTUHAN ZAT BESI
Pemberian suplemen zat besi pada anak di atas 2 tahun tetap diperlukan, meski dengan frekuensi yang lebih jarang. Pola ini disesuaikan dengan kebutuhan tubuh yang mulai stabil setelah masa pertumbuhan awal.
Orang tua diimbau untuk memahami jadwal pemberian yang tepat, memperhatikan asupan makanan bergizi, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila diperlukan. Dengan demikian, risiko kekurangan zat besi dapat dicegah sejak dini.
Baca Juga “Lapas Wahai Prioritaskan Kesehatan Warga Binaan Lansia lewat Suplemen Kalsium“