Diet Ekstrem Air Putih Turunkan 20 Kg, Otak Terdampak

Otak Terdampak

Diet Ekstrem Hanya Minum Air Putih Turunkan 20 Kg, Fungsi Otak Terdampak
Seorang wanita berusia 31 tahun asal Henan, China, mengalami gangguan fungsi otak setelah menjalani diet ekstrem selama 15 hari. Selama periode tersebut, ia hanya mengonsumsi air putih dan tidak mendapatkan asupan makanan yang memadai.

Pola diet tersebut dikenal sebagai bigu, sebuah praktik puasa yang memiliki akar dalam tradisi Taoisme. Wanita itu memang mengalami penurunan berat badan sekitar 20 kilogram, tetapi perubahan tersebut diikuti masalah neurologis serius.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa penurunan berat badan secara cepat tidak selalu menunjukkan keberhasilan diet. Tubuh tetap membutuhkan energi, vitamin, mineral, protein, lemak, dan nutrisi lain untuk mempertahankan fungsi organ.

Wanita 31 Tahun Jalani Diet Bigu Selama 15 Hari
Menurut laporan South China Morning Post (SCMP), wanita tersebut mengikuti praktik bigu selama 15 hari berturut-turut. Selama menjalani pola tersebut, ia hanya mengandalkan air putih sebagai asupan.

Baca Juga “Diet Anak Obesitas Harus Disesuaikan Usia, Balita Tidak Boleh Sembarangan Dibatasi Asupannya

Bigu secara harfiah berarti “menghindari biji-bijian”. Praktik tersebut berasal dari tradisi Taois dan dikaitkan dengan kepercayaan mengenai pencapaian transendensi melalui pengandalan qi atau energi vital.

Praktik tersebut diyakini telah dikenal sejak sebelum periode Dinasti Qin, sekitar 221–206 SM. Dalam perkembangannya, konsep bigu kemudian memiliki beragam bentuk dan penerapan.

Namun, praktik tradisional tidak otomatis aman ketika diterapkan sebagai metode penurunan berat badan. Puasa berkepanjangan tanpa pengawasan medis dapat menyebabkan tubuh kekurangan energi dan berbagai zat gizi penting.

Kekurangan Nutrisi Memicu Ensefalopati Wernicke
Neurolog dari The First Affiliated Hospital of Zhengzhou University, dr Sun Guifang, mengatakan wanita tersebut mengalami ensefalopati Wernicke.

Kondisi tersebut merupakan gangguan neurologis serius yang umumnya berkaitan dengan kekurangan vitamin B1 atau tiamin. Kekurangan tiamin dapat mengganggu fungsi otak dan sistem saraf.

Dalam kasus wanita tersebut, pembatasan asupan makanan secara ekstrem menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Tubuh memperoleh tiamin dan berbagai mikronutrien lain terutama melalui makanan.

Ensefalopati Wernicke dapat menimbulkan sejumlah gejala neurologis. Beberapa di antaranya meliputi kebingungan, gangguan keseimbangan, masalah koordinasi, gangguan gerakan mata, serta perubahan fungsi memori.

Gangguan Berjalan Menjadi Salah Satu Gejala
Dr Sun menggambarkan cara berjalan wanita tersebut menyerupai penguin. Gangguan keseimbangan dan koordinasi dapat menjadi salah satu tanda yang muncul ketika sistem saraf mengalami gangguan.

Dokter tersebut juga memperingatkan bahwa sebagian gejala neurologis dapat menetap apabila kondisi tidak segera ditangani. Hal ini menunjukkan pentingnya mendapatkan pertolongan medis ketika muncul gangguan setelah menjalani puasa ekstrem.

Ensefalopati Wernicke membutuhkan penanganan medis segera. Terapi biasanya berfokus pada pemulihan kadar tiamin dan penanganan kondisi yang mendasari kekurangan nutrisi.

Kasus tersebut sekaligus menunjukkan bahwa tubuh tidak dapat terus bergantung pada air saja. Air memang penting untuk menjaga hidrasi, tetapi tidak menyediakan energi dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Diet Air Putih Dapat Menimbulkan Risiko Serius
Puasa hanya dengan air dalam waktu panjang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Risiko dapat meningkat ketika seseorang tidak mendapatkan asupan energi, protein, vitamin, mineral, dan elektrolit yang cukup.

Penurunan berat badan yang sangat cepat juga tidak selalu berasal dari berkurangnya lemak tubuh. Tubuh dapat kehilangan cadangan glikogen, air, serta massa otot ketika asupan energi turun secara drastis.

Kondisi tersebut berbeda dengan strategi penurunan berat badan yang dilakukan secara terencana. Program pengelolaan berat badan sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan energi, kondisi kesehatan, pola makan, aktivitas fisik, serta faktor individual lainnya.

Karena itu, seseorang yang ingin menurunkan berat badan secara signifikan sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pendekatan tersebut dapat membantu mengurangi risiko kekurangan nutrisi dan komplikasi lainnya.

Kasus Serupa Pernah Menimbulkan Komplikasi Berat
Praktik puasa ekstrem bukan hanya dikaitkan dengan kasus wanita asal Henan tersebut. Laporan yang sama menyebut beberapa kasus lain yang menunjukkan risiko ketika seseorang hanya mengonsumsi air dalam waktu lama.

Pada 2020, seorang pria berusia 26 tahun dari Heilongjiang dilaporkan meninggal setelah menjalani puasa hanya dengan air selama 52 hari. Ia juga mengalami gejala menyerupai demensia menjelang kematiannya.

Kasus lain terjadi pada 2025 di Zhejiang. Seorang wanita dilaporkan kehilangan sekitar 5 kilogram setelah menjalani pola konsumsi air dan “pil energi” selama sepekan.

Namun, puasa tersebut dikaitkan dengan kerusakan berat pada mukosa usus. Kondisi tersebut kemudian menyebabkan infeksi bakteri masuk ke aliran darah dan disertai hipokalemia yang mengancam jiwa.

Kasus-kasus tersebut tidak berarti setiap bentuk puasa pasti menyebabkan komplikasi berat. Risiko sangat dipengaruhi durasi, kondisi kesehatan, asupan nutrisi, obat yang dikonsumsi, serta pengawasan selama menjalani pembatasan makanan.

Penurunan Berat Badan Cepat Perlu Diwaspadai
Kehilangan 20 kilogram dalam waktu 15 hari merupakan perubahan berat badan yang sangat besar. Angka tersebut tidak dapat dijadikan patokan keberhasilan diet karena penurunan berat badan cepat dapat melibatkan kehilangan cairan dan massa tubuh lainnya.

Target penurunan berat badan sebaiknya mempertimbangkan kondisi setiap individu. Faktor seperti berat badan awal, usia, aktivitas fisik, penyakit penyerta, serta kebutuhan nutrisi dapat memengaruhi strategi yang tepat.

Diet yang terlalu ketat juga dapat menyulitkan seseorang mempertahankan hasil dalam jangka panjang. Ketika pola makan kembali seperti sebelumnya, berat badan dapat kembali meningkat.

Pendekatan yang lebih berkelanjutan biasanya mengutamakan pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang sesuai. Tenaga kesehatan dapat membantu menentukan strategi yang lebih aman berdasarkan kondisi masing-masing orang.

Bigu Tidak Sama dengan Puasa Terencana
Bigu sebagai praktik tradisional memiliki konteks budaya dan sejarah yang berbeda dari metode diet modern. Karena itu, penerapan praktik tersebut sebagai metode penurunan berat badan perlu dipertimbangkan secara hati-hati.

Puasa dalam konteks medis atau nutrisi juga memiliki berbagai bentuk. Tidak semua metode mengharuskan seseorang berhenti mengonsumsi makanan selama berhari-hari.

Perbedaan durasi dan pola konsumsi membuat risiko setiap metode tidak dapat disamakan. Puasa berkepanjangan tanpa pengawasan juga berbeda dari pembatasan waktu makan yang dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi.

Yang perlu dihindari adalah menganggap penurunan berat badan drastis sebagai bukti bahwa metode tersebut aman. Tubuh tetap membutuhkan asupan nutrisi untuk menjalankan fungsi otak, otot, organ, dan sistem metabolisme.

Gejala Neurologis Setelah Puasa Perlu Segera Diperiksa
Seseorang yang mengalami kebingungan, gangguan keseimbangan, kesulitan berjalan, gangguan penglihatan, atau perubahan kesadaran setelah pembatasan makanan perlu segera mendapatkan pertolongan medis.

Gejala tersebut tidak sebaiknya dianggap sebagai efek normal dari diet. Kekurangan nutrisi tertentu dapat berkembang menjadi kondisi serius apabila tidak ditangani.

Kasus wanita asal Henan memperlihatkan konsekuensi yang dapat muncul ketika tubuh kehilangan akses terhadap nutrisi penting. Penurunan berat badan seharusnya tidak dilakukan dengan mengorbankan fungsi organ.

Baca Juga “Bukan Sekadar Makan Sayuran, Ini Jenis Diet Vegetarian dan Manfaatnya Bagi Kesehatan Tubuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *