Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Tekankan Pentingnya Pemeriksaan Rutin
Kolesterol tinggi kerap berkembang tanpa menimbulkan tanda atau keluhan yang jelas. Kondisi ini membuat banyak orang baru mengetahui kadar kolesterolnya sudah melewati batas normal setelah menjalani pemeriksaan kesehatan atau bahkan ketika mengalami serangan jantung maupun stroke. Karena itu, pemeriksaan kolesterol secara berkala menjadi langkah penting untuk mendeteksi risiko penyakit sejak dini.
Baca Juga “24 Makanan yang Mengandung Karbohidrat dan Nutrisinya, dari Beras hingga Oat“
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, mengingatkan bahwa sebagian besar kasus kolesterol tinggi bersifat tanpa gejala. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sesi edukasi media yang diselenggarakan Daewoong bersama PERKI di Jakarta, Kamis.
Menurut Susetyo, tidak adanya gejala sering membuat masyarakat mengabaikan pemeriksaan kesehatan. Akibatnya, kolesterol tinggi baru terdeteksi ketika sudah menimbulkan komplikasi serius yang sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko.
“Sebagian besar kolesterol tinggi tidak bergejala. Ketika dicek sudah tinggi. Kalau kita gagal mendeteksi secara awal, maka kita akan mendeteksi kolesterol tinggi itu pada saat kita akan mengalami serangan jantung atau stroke,” kata Susetyo.
Kolesterol LDL Tinggi Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung dan Stroke
Susetyo menjelaskan bahwa kadar low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat yang tinggi dapat memicu terbentuknya plak aterosklerosis di dinding pembuluh darah. Proses tersebut berlangsung secara bertahap dan sering kali tidak disadari karena tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal.
Seiring waktu, penumpukan plak akan mempersempit pembuluh darah sehingga aliran darah menuju organ vital, termasuk jantung dan otak, menjadi terganggu. Jika plak pecah atau penyumbatan semakin berat, kondisi tersebut dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke yang muncul secara mendadak.
Karena itu, Susetyo mengimbau masyarakat tidak menunggu munculnya gejala sebelum memeriksakan kadar kolesterol.
“Kalau menunggu gejala, biasanya penyakitnya sudah terlambat. Jadi pemeriksaan kolesterol secara berkala menjadi cara terbaik untuk mendeteksi risiko sejak dini,” ujarnya.
Kel kolesterol secara berkala sangat dianjurkan bagi individu yang memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular. Kelompok tersebut meliputi penderita diabetes, hipertensi, perokok aktif,ompok Berisiko Perlu Lebih Rutin Memeriksa Kolesterol
Pemeriksaan kolesterol secara berkala sangat dianjurkan bagi individu yang memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular. Kelompok tersebut meliputi penderita diabetes, hipertensi, perokok aktif, orang dengan berat badan berlebih, serta mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Menurut Susetyo, pemeriksaan tidak hanya berfokus pada kadar kolesterol total. Kadar kolesterol LDL juga perlu dipantau karena menjadi salah satu indikator utama dalam menilai risiko penyakit jantung dan gang, seperti usia, tekanan darah, kebiasaan merokok, dan riwayat kesehatan pasien untuk menentukan strategi pencegahan maupun pengobatan yang paling sesuai bahwa pengendalian kolesterol tidak cukup hanya melalui pemeriksaan rutin. Masyarakat juga perlu menerapkan pola hidup sehat secara konsisten agar kadar kolesterol tetap terkendali dan risiko penyakit kardiovaskular dapatmak trans, memperbanyak asupan sayur, buah, serta makanan tinggi serat, rutin memiliki kolesterol tinggi, kepatuhan menjalani terapi sesuai anjuran dokter juga menjadi bagian penting dalam mencegah komplikasi. Pengobatan sebaiknya tidak dihentikan tanpa konsultasi karena kadar kolesterol dapat kembali meningkat meskipun tidakguan pembuluh darah.
Selain pemeriksaan laboratorium, dokter juga akan mempertimbangkan faktor risiko lain, seperti usia, tekanan darah, kebiasaan merokok, dan riwayat kesehatan pasien untuk menentukan strategi pencegahan maupun pengobatan yang paling sesuai.
Pola Hidup Sehat Menjadi Kunci Mengendalikan Kolesterol
Susetyo menegaskan bahwa pengendalian kolesterol tidak cukup hanya melalui pemeriksaan rutin. Masyarakat juga perlu menerapkan pola hidup sehat secara konsisten agar kadar kolesterol tetap terkendali dan risiko penyakit kardiovaskular dapat ditekan.
Beberapa langkah yang dianjurkan meliputi membatasi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, memperbanyak asupan sayur, buah, serta makanan tinggi serat, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, dan berhenti merokok.
Bagi pasien yang telah didiagnosis memiliki kolesterol tinggi, kepatuhan menjalani terapi sesuai anjuran dokter juga menjadi bagian penting dalam mencegah komplikasi. Pengobatan sebaiknya tidak dihentikan tanpa konsultasi karena kadar kolesterol dapat kembali meningkat meskipun tidak menimbulkan gejala.
Deteksi dini melalui pemeriksaan berkala, disertai gaya hidup sehat dan pengobatan yang tepat, menjadi langkah efektif untuk menurunkan risiko serangan jantung maupun stroke. Dengan memahami bahwa kolesterol tinggi sering berkembang tanpa gejala, masyarakat diharapkan lebih proaktif memantau kesehatan jantung sebelum muncul komplikasi yang mengancam jiwa.
Baca Juga “Empat penyebab orang bertubuh kurus bisa alami kolesterol tinggi“