Doom Scrolling Bisa Ganggu Kesehatan Mental Pengguna

Doom Scrolling Bisa Picu Kecemasan dan Ganggu Kesehatan Mental

Perkembangan media sosial membuat masyarakat semakin mudah mengakses informasi kapan saja dan di mana saja. Namun, kemudahan tersebut juga memunculkan kebiasaan baru yang berpotensi berdampak negatif bagi kesehatan mental, yaitu doom scrolling.

Istilah doom scrolling merujuk pada kebiasaan menggulir layar gawai secara terus-menerus untuk membaca berita, informasi, atau konten bernada negatif yang memicu kekhawatiran. Aktivitas ini sering kali dimulai dari rasa ingin tahu terhadap suatu peristiwa, tetapi dapat berkembang menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.

Di era banjir informasi, fenomena ini semakin banyak ditemukan karena media sosial menjadi salah satu sumber berita utama bagi masyarakat. Meski bertujuan mencari informasi terbaru, konsumsi konten negatif secara berlebihan justru dapat meningkatkan tekanan psikologis dan memengaruhi kualitas hidup sehari-hari.

baca juga”Rutin Jalan Kaki Pagi Bantu Jaga Kesehatan Tubuh“

Apa Itu Doom Scrolling dan Mengapa Banyak Orang Mengalaminya?

Doom scrolling berasal dari gabungan kata “doom” yang berarti malapetaka atau kehancuran dan “scrolling” yang berarti menggulir layar. Istilah ini menggambarkan perilaku seseorang yang terus mencari dan mengonsumsi informasi negatif meskipun konten tersebut membuatnya merasa tidak nyaman.

Menurut dokter spesialis kedokteran jiwa William Surya Atmadja dari RS EMC Pulomas dan Alam Sutera, seseorang biasanya terdorong untuk mencari lebih banyak informasi ketika menemukan berita yang mengkhawatirkan.

Keinginan tersebut muncul karena otak berusaha mencari kepastian dan rasa aman. Namun, yang sering terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak berita negatif yang dikonsumsi, semakin besar pula rasa cemas yang muncul.

Fenomena ini diperkuat oleh algoritma media sosial yang cenderung menampilkan konten serupa berdasarkan riwayat pencarian dan interaksi pengguna. Akibatnya, seseorang dapat terjebak dalam siklus paparan informasi negatif tanpa disadari.

Paparan Berita Negatif Dapat Meningkatkan Kecemasan

Salah satu dampak paling umum dari doom scrolling adalah meningkatnya kecemasan. Ketika seseorang terus-menerus membaca berita buruk, otak dapat membentuk persepsi bahwa dunia berada dalam kondisi yang lebih berbahaya daripada kenyataan sebenarnya.

Kondisi tersebut membuat seseorang lebih mudah merasa khawatir terhadap berbagai hal, mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga keamanan pribadi. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kecemasan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup.

Stres Berkepanjangan Membuat Tubuh Sulit Beristirahat

Berita yang mengandung ancaman atau informasi yang memicu ketakutan dapat mengaktifkan respons stres alami tubuh. Saat hal ini terjadi berulang kali, sistem saraf terus berada dalam kondisi siaga.

Tubuh akan menghasilkan hormon stres seperti kortisol dalam jumlah lebih tinggi. Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah tegang, sulit rileks, dan rentan mengalami kelelahan mental.

Paparan stres yang berlangsung terus-menerus juga dapat memengaruhi kesehatan fisik, termasuk meningkatkan risiko gangguan tekanan darah dan menurunkan daya tahan tubuh.

Doom Scrolling Bisa Mengganggu Kualitas Tidur

Kebiasaan membuka media sosial sebelum tidur menjadi salah satu pemicu utama doom scrolling. Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam membaca berita atau mengikuti perkembangan isu tertentu tanpa menyadari waktu yang terus berjalan.

Selain paparan cahaya biru dari layar gawai, konsumsi informasi yang memicu kecemasan membuat otak tetap aktif ketika seharusnya mulai beristirahat. Kondisi ini dapat memperpanjang waktu untuk tertidur dan mengurangi kualitas tidur secara keseluruhan.

Kurang tidur dalam jangka panjang diketahui berhubungan dengan meningkatnya risiko stres, gangguan suasana hati, dan penurunan konsentrasi.

Fokus dan Produktivitas Sehari-hari Bisa Menurun

Doom scrolling juga dapat menghabiskan waktu yang seharusnya digunakan untuk aktivitas yang lebih produktif. Ketika perhatian terus tersedot pada arus informasi yang tidak ada habisnya, kemampuan untuk fokus pada pekerjaan, belajar, atau berinteraksi dengan keluarga menjadi berkurang.

Produktivitas dapat menurun karena otak terus menerima rangsangan informasi baru tanpa jeda yang cukup untuk memprosesnya. Akibatnya, seseorang lebih mudah terdistraksi dan kesulitan menyelesaikan tugas dengan efektif.

Suasana Hati Menjadi Lebih Negatif dan Pesimistis

Paparan konten negatif secara berulang dapat memengaruhi cara seseorang memandang dunia di sekitarnya. Individu yang sering melakukan doom scrolling cenderung lebih mudah merasa pesimis, kehilangan harapan, atau melihat berbagai situasi dari sudut pandang yang lebih negatif.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kesejahteraan emosional dan membuat seseorang merasa lebih sulit menikmati aktivitas sehari-hari.

Cara Mengurangi Kebiasaan Doom Scrolling

Menurut William Surya Atmadja, langkah pertama untuk mengatasi doom scrolling adalah mengenali pola penggunaan gawai. Seseorang perlu memahami kapan kebiasaan tersebut paling sering muncul, apakah saat bangun tidur, menjelang tidur, ketika bosan, atau saat sedang merasa cemas.

Setelah memahami pemicunya, pengguna dapat mulai membatasi durasi penggunaan media sosial melalui fitur screen time atau aplikasi pengontrol waktu layar.

Membuat jadwal khusus untuk membaca berita juga dapat membantu. Mengakses informasi satu atau dua kali sehari dari sumber terpercaya umumnya sudah cukup untuk tetap mengikuti perkembangan terkini tanpa terjebak dalam konsumsi informasi berlebihan.

Selain itu, penting untuk melakukan kurasi terhadap akun dan sumber informasi yang diikuti. Mengurangi paparan konten sensasional dapat membantu menjaga kondisi psikologis tetap stabil.

Ketika muncul dorongan untuk terus menggulir layar, cobalah menggantinya dengan aktivitas lain seperti membaca buku, berjalan kaki, berolahraga ringan, menjalankan hobi, atau berbicara dengan orang terdekat.

Membangun Kebiasaan Digital yang Lebih Sehat

Teknologi dan media sosial pada dasarnya dirancang untuk memudahkan akses informasi serta memperluas koneksi sosial. Namun, penggunaan yang tidak terkontrol dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan mental.

Menjadi pengguna digital yang sehat bukan berarti menghindari berita atau menutup diri dari perkembangan dunia. Sebaliknya, hal tersebut berarti mampu memilih informasi secara bijak dan mengetahui kapan harus berhenti mengonsumsinya.

Dengan membangun kebiasaan digital yang lebih seimbang, masyarakat dapat tetap memperoleh informasi yang dibutuhkan tanpa mengorbankan ketenangan pikiran. Informasi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan menghadapi kehidupan, bukan sumber kecemasan yang terus-menerus membebani kesehatan mental.

baca juga”Usai Cedera Kepala, Dokter Lebih Khawatir Pasien Pingsan daripada Benjol Besar“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *