Gen Alpha Rentan Gangguan Mental akibat Dunia Maya

Generasi Alpha dinilai semakin rentan mengalami gangguan kesehatan mental seiring tingginya paparan dunia maya sejak usia dini. Akses informasi yang luas tanpa penyaringan membuat anak-anak lebih mudah mengalami tekanan psikologis, terutama terkait rasa tidak percaya diri dan kecemasan.

Psikolog dari Fakultas Psikologi UGM, Diana Setyawati, menegaskan bahwa dunia digital menjadi salah satu faktor utama yang memicu kerentanan tersebut. Anak-anak yang tumbuh di era teknologi cenderung menyerap berbagai informasi, namun tidak semuanya berdampak positif.

baca juga”Makanan Penguat Rambut dan Kuku agar Tidak Rapuh

“Dunia maya memberikan rasa insecure yang besar. Anak-anak mengetahui banyak hal, tetapi sebagian informasi justru meningkatkan tekanan psikologis mereka,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (28/2/2026).

Paparan Media Sosial Menggeser Nilai Anak

Diana menjelaskan bahwa generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan yang dipengaruhi algoritma media sosial. Nilai-nilai yang mereka serap tidak lagi sepenuhnya berasal dari keluarga, tetapi juga dari konten digital yang mereka konsumsi setiap hari.

Ia menilai media sosial saat ini banyak menampilkan gaya hidup instan, hedonisme, serta pamer kekayaan. Kondisi ini berpotensi membentuk persepsi yang tidak realistis pada anak.

“Ada pergeseran nilai. Jika keluarga tidak menanamkan nilai yang kuat, maka peran tersebut akan digantikan oleh dunia maya,” kata Diana.

Peran Keluarga Jadi Kunci Pencegahan

Menurut Diana, upaya pencegahan gangguan mental pada anak harus dimulai dari keluarga. Orang tua perlu memahami konsep kesehatan mental agar dapat mengenali perubahan perilaku anak sejak dini.

Anak dengan kondisi mental yang sehat umumnya mampu mengenali potensi diri, memiliki tujuan hidup, serta dapat mengelola stres sehari-hari. Mereka juga cenderung produktif dan mampu berkontribusi bagi lingkungan sekitar.

“Orang tua perlu memahami ciri kesehatan mental anak agar dapat memberikan pendampingan yang tepat saat terjadi perubahan perilaku,” jelasnya.

Kolaborasi Sistem untuk Kesehatan Mental Anak

Diana menekankan bahwa isu kesehatan mental generasi muda tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan layanan kesehatan.

Ia menyarankan pemerintah memperkuat edukasi terkait keterampilan berkeluarga. Sekolah juga perlu menerapkan pendekatan berbasis kesehatan mental untuk mendukung kesejahteraan siswa.

Selain itu, layanan kesehatan harus siap menghadapi peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental. Upaya promosi dan pencegahan perlu dilakukan secara menyeluruh sejak dini.

“Kita harus membangun sistem kesehatan mental yang kuat melalui pendekatan holistik,” tegasnya.

Data Tingginya Kasus Kesehatan Mental Pelajar

Kerentanan ini juga terlihat dari data terbaru di Kota Bandung. Lebih dari 71.000 pelajar terindikasi mengalami masalah kesehatan mental berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan pada Agustus hingga Oktober 2025.

Dari total 148.239 siswa yang diperiksa, sebanyak 48,19 persen menunjukkan indikasi gangguan kesehatan jiwa. Temuan tertinggi terdapat pada jenjang SMP/MTs.

Sebanyak 76,46 persen siswa SMP mengalami gejala kecemasan ringan. Selain itu, 7,89 persen terindikasi kecemasan berat, 15,23 persen mengalami depresi ringan, dan 7,42 persen menunjukkan gejala depresi berat.

Pada tingkat SD/MI, 53,75 persen siswa terindikasi memiliki masalah kesehatan mental, yang didominasi kecemasan dan depresi ringan. Sementara itu, pada jenjang SMA/MA angkanya mencapai 25,79 persen, dan di sekolah luar biasa mencapai 48,51 persen.

Data ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental pada anak dan remaja semakin meluas dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

Kesimpulan

Paparan dunia maya yang tidak terkontrol menjadi salah satu faktor utama meningkatnya gangguan kesehatan mental pada generasi Alpha. Pergeseran nilai dan tekanan sosial dari media digital memperbesar risiko kecemasan dan depresi.

Penguatan peran keluarga, dukungan sistem pendidikan, serta kesiapan layanan kesehatan menjadi langkah penting untuk mengatasi masalah ini. Dengan pendekatan yang terintegrasi, generasi Alpha diharapkan dapat tumbuh dengan kondisi mental yang lebih sehat dan stabil.

baca juga”Pengguna Internet Indonesia Didominasi Gen Z hingga Alpha, Psikolog Soroti Tantangan Perkembangan Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *