Intermittent Fasting vs Defisit Kalori, Studi Ungkap Metode Diet yang Lebih Mudah Dijalani
Menurunkan berat badan dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk intermittent fasting (IF) dan diet dengan metode defisit kalori. Keduanya dikenal sebagai strategi populer untuk mengatur asupan energi, tetapi banyak orang masih mempertanyakan metode mana yang lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebuah penelitian terbaru dari University of Adelaide menunjukkan bahwa intermittent fasting dan defisit kalori memiliki efektivitas yang hampir sama dalam membantu penurunan berat badan. Namun, metode puasa intermiten dinilai lebih mudah dijalani oleh sebagian peserta karena tidak mengharuskan mereka terus menghitung jumlah kalori setiap hari.
Baca Juga “Tracking Kalori Lewat Aplikasi atau Smartwatch, Efektif Bantu Turunkan BB?“
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Nutrition tersebut menemukan bahwa kedua pola diet mampu menghasilkan penurunan berat badan yang signifikan. Perbedaannya terlihat pada tingkat usaha mental yang dibutuhkan peserta untuk mempertahankan pola makan selama program berlangsung.
Penelitian Bandingkan Efek Intermittent Fasting dan Defisit Kalori
Penelitian tersebut melibatkan 209 orang dewasa dengan kondisi obesitas. Rata-rata usia peserta berada di angka 58 tahun.
Para peneliti membagi peserta menjadi tiga kelompok berbeda. Kelompok pertama menjalani metode intermittent fasting, kelompok kedua menerapkan pembatasan kalori harian, sedangkan kelompok ketiga hanya menerima edukasi mengenai pola makan sehat.
Pembagian kelompok tersebut dilakukan untuk melihat bagaimana setiap metode memengaruhi perubahan berat badan sekaligus kondisi psikologis peserta selama menjalani program diet.
Pada kelompok intermittent fasting, peserta menjalani pola makan dengan waktu terbatas. Mereka hanya mengonsumsi sekitar 30 persen kebutuhan energi harian antara pukul 08.00 hingga 12.00 selama tiga hari tidak berurutan dalam satu pekan.
Setelah periode makan tersebut selesai, peserta menjalani puasa selama 20 jam. Pada empat hari lainnya, mereka tetap diperbolehkan makan seperti biasa tanpa pembatasan waktu tertentu.
Sementara itu, kelompok defisit kalori diminta mengurangi konsumsi energi hingga sekitar 70 persen dari kebutuhan harian mereka.
Metode ini mengharuskan peserta memperhatikan jumlah makanan yang dikonsumsi setiap hari agar tetap berada dalam batas kalori yang telah ditentukan.
Kedua Metode Diet Berhasil Turunkan Berat Badan Sekitar 7 Kilogram
Setelah menjalani program selama enam bulan, hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intermittent fasting dan kelompok defisit kalori sama-sama mengalami penurunan berat badan rata-rata sekitar 7 kilogram.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa kedua metode memiliki efektivitas yang sebanding dalam membantu mengurangi berat badan pada orang dewasa dengan obesitas.
Sebagai pembanding, peserta yang hanya mendapatkan edukasi mengenai pola makan sehat mengalami penurunan berat badan sekitar 2 kilogram selama periode penelitian.
Selain perubahan berat badan, peserta dari kedua kelompok diet juga melaporkan adanya peningkatan kesejahteraan psikologis.
Mereka mengalami perbaikan suasana hati serta penurunan gejala depresi selama mengikuti program.
Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan diet tidak hanya berkaitan dengan angka di timbangan, tetapi juga dengan pengalaman seseorang dalam menjalani pola makan tertentu.
Intermittent Fasting Dinilai Lebih Ringan dari Sisi Beban Mental
Selain mengukur perubahan berat badan, peneliti juga mengevaluasi aspek psikologis peserta.
Beberapa faktor yang diamati meliputi rasa lapar, keinginan makan berlebihan, suasana hati, kualitas tidur, hingga tingkat usaha mental dalam mengontrol makanan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang menjalani defisit kalori harian membutuhkan usaha lebih besar untuk mempertahankan pola makan.
Mereka harus lebih sering menghitung kalori, memperhatikan porsi makanan, serta mengendalikan keinginan untuk mengonsumsi makanan tertentu.
Sebaliknya, peserta yang menjalani intermittent fasting dapat mencapai hasil penurunan berat badan yang serupa tanpa merasa harus terus-menerus memikirkan batasan makanan.
Menurut peneliti, pola makan berbasis waktu seperti intermittent fasting dapat membantu sebagian orang karena aturan utamanya lebih sederhana. Mereka cukup mengatur waktu makan dibandingkan menghitung seluruh kandungan kalori makanan.
Profesor Leonie Heilbronn, salah satu penulis penelitian, menyebut intermittent fasting berpotensi membantu individu tertentu menurunkan berat badan dengan mengurangi fokus terhadap pembatasan makanan sepanjang hari.
Intermittent Fasting Tetap Memiliki Keterbatasan
Meskipun memberikan hasil positif, penelitian tersebut menegaskan bahwa intermittent fasting bukan metode yang cocok untuk semua orang.
Beberapa kelompok perlu mendapatkan pertimbangan khusus sebelum mencoba pola makan ini. Ibu hamil, ibu menyusui, orang dengan riwayat gangguan makan, serta pengguna obat diabetes disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terlebih dahulu.
Hal tersebut penting karena perubahan pola makan yang signifikan dapat memengaruhi kondisi kesehatan tertentu.
Selain itu, penelitian ini hanya menguji satu jenis metode intermittent fasting pada kelompok orang dewasa dengan obesitas.
Karena itu, hasil penelitian belum dapat langsung diterapkan kepada semua kelompok usia, kondisi tubuh, maupun variasi intermittent fasting lain yang banyak berkembang di masyarakat.
Defisit Kalori Tetap Menjadi Dasar Utama Penurunan Berat Badan
Meskipun intermittent fasting menawarkan kemudahan dalam pengaturan pola makan, penelitian ini tidak menunjukkan bahwa metode tersebut lebih unggul dibandingkan defisit kalori.
Pada dasarnya, penurunan berat badan tetap bergantung pada terciptanya kondisi ketika tubuh menggunakan lebih banyak energi dibandingkan energi yang masuk dari makanan.
Intermittent fasting dan defisit kalori hanya menggunakan pendekatan berbeda untuk mencapai kondisi tersebut.
Defisit kalori secara langsung mengatur jumlah energi yang masuk, sedangkan intermittent fasting membatasi waktu konsumsi makanan sehingga sebagian orang lebih mudah mengontrol jumlah asupan secara alami.
Karena respons setiap individu dapat berbeda, metode diet terbaik adalah pola yang dapat dijalankan secara konsisten dalam jangka panjang.
Pilihan Diet Perlu Disesuaikan dengan Kondisi dan Gaya Hidup
Hasil penelitian University of Adelaide memberikan gambaran bahwa intermittent fasting dan defisit kalori sama-sama dapat menjadi pilihan untuk membantu penurunan berat badan.
Intermittent fasting mungkin terasa lebih mudah bagi orang yang tidak ingin menghitung kalori setiap hari. Sementara itu, defisit kalori tetap menjadi pendekatan yang fleksibel karena dapat diterapkan melalui berbagai jenis pola makan.
Faktor seperti kondisi kesehatan, aktivitas harian, kebiasaan makan, serta kemampuan menjaga konsistensi menjadi pertimbangan penting dalam memilih metode diet.
Pada akhirnya, keberhasilan program penurunan berat badan tidak hanya ditentukan oleh metode yang dipilih, tetapi juga kemampuan seseorang mempertahankan pola hidup sehat secara berkelanjutan.
Baca Juga “Karina aespa Pernah Diet Ekstrem, Turun 4 Kg dalam Sehari, Sehat Gak?“