Kalori Cair dari Minuman Manis Bisa Menghambat Program Diet
Banyak orang sudah rutin berolahraga, mengurangi makanan olahan, dan membatasi porsi makan, tetapi berat badan tetap sulit turun. Salah satu penyebab yang sering terlewat adalah konsumsi kalori cair dari minuman manis. Jenis kalori ini dapat meningkatkan asupan energi harian tanpa memberikan rasa kenyang yang bertahan lama, sehingga defisit kalori yang dibutuhkan untuk menurunkan berat badan menjadi lebih sulit dicapai.
Kalori cair berasal dari berbagai jenis minuman, seperti jus buah, minuman bersoda, minuman berenergi, kopi dengan tambahan gula, hingga minuman pengganti makan. Karena dikonsumsi dalam bentuk cair, tubuh cenderung tidak memberikan respons kenyang yang sama seperti saat mengonsumsi makanan padat. Akibatnya, seseorang tetap makan dalam jumlah normal meski sudah memperoleh tambahan kalori dari minuman.
Baca Juga “Diet Mediterania, Lebih dari Sekadar Pola Makan Sehat“
Minuman Manis Menambah Kalori Tanpa Disadari
Dokter layanan primer di Mercy Medical Center, Baltimore, Amerika Serikat, Susan Besser, menjelaskan bahwa banyak orang menganggap minuman sebagai pilihan yang lebih sehat dibanding makanan. Padahal, anggapan tersebut tidak selalu benar.
Menurut Besser, orang yang mengganti makanan dengan minuman sering merasa telah memilih opsi yang lebih rendah kalori. Kenyataannya, sejumlah minuman justru menyumbang energi dalam jumlah besar tanpa membantu mengendalikan rasa lapar.
Jus buah menjadi contoh yang paling sering disalahpahami. Meski mengandung vitamin, mineral, dan antioksidan, sebagian besar kalorinya tetap berasal dari gula alami buah. Gula tersebut tetap berkontribusi terhadap total asupan energi harian.
Sebagai gambaran, segelas jus jeruk sekitar 240 mililiter mengandung sekitar 110 kalori. Sementara itu, satu kaleng minuman bersoda berukuran 355 mililiter mengandung sekitar 140 kalori. Selisih kalorinya tidak terlalu besar, terlebih jika jus dikonsumsi dalam porsi yang lebih besar dari satu gelas.
Penelitian Menunjukkan Hubungan Minuman Manis dengan Kenaikan Berat Badan
Sejumlah penelitian mendukung temuan bahwa minuman berpemanis berkontribusi terhadap peningkatan berat badan. Studi yang diterbitkan dalam The American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan konsumsi rutin minuman bergula dapat meningkatkan total asupan kalori harian tanpa disadari.
Kondisi tersebut terjadi karena tubuh tidak merespons kalori cair dengan mekanisme kenyang yang sama seperti makanan padat. Akibatnya, seseorang tetap merasa lapar dan mengonsumsi makanan dalam jumlah yang sama, meski sebelumnya sudah memperoleh tambahan energi dari minuman.
Selain minuman manis, protein shake dan minuman berenergi juga memerlukan perhatian. Banyak produk dalam kategori ini mengandung sekitar 200 kalori atau lebih per sajian.
Minuman tersebut sebenarnya dirancang sebagai pengganti makan dalam kondisi tertentu. Namun, jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan utama, total kalori harian akan meningkat sehingga target pembatasan energi menjadi lebih sulit tercapai.
Besser menyarankan masyarakat membiasakan diri membaca label informasi gizi sebelum membeli minuman. Dengan mengetahui jumlah kalori dalam setiap sajian, seseorang dapat menyesuaikan pola makan agar kebutuhan energi tetap seimbang.
Minuman Diet dan Alkohol Juga Perlu Diperhatikan
Kalori cair tidak hanya berasal dari minuman manis. Minuman beralkohol juga mengandung energi yang cukup tinggi dan sering kali dikonsumsi bersamaan dengan makanan.
Segelas anggur berukuran sekitar 150 mililiter mengandung sekitar 120 kalori. Sementara itu, satu gelas bir berukuran 355 mililiter mengandung sekitar 150 kalori. Kandungan kalori tersebut dapat meningkat apabila minuman dicampur sirup, gula, atau bahan pemanis lainnya.
Di sisi lain, minuman rendah kalori atau soda diet belum tentu menjadi solusi terbaik bagi pelaku diet. Produk ini memang mengandung sedikit atau bahkan nol kalori, tetapi tidak selalu membantu mengendalikan nafsu makan.
Penelitian dari Yale University menunjukkan bahwa pemanis buatan dapat menciptakan ketidaksesuaian antara rasa manis dan jumlah kalori yang diterima tubuh. Kondisi tersebut diduga memengaruhi mekanisme metabolisme dan pengaturan rasa lapar, sehingga sebagian orang justru terdorong makan lebih banyak setelah mengonsumsinya.
Pilih Minuman yang Memberikan Rasa Kenyang Lebih Lama
Ahli gizi terdaftar sekaligus pengajar ilmu biomedis di Missouri State University, Natalie Allen, menyarankan masyarakat memilih minuman yang mengandung protein apabila membutuhkan rasa kenyang lebih lama.
Susu rendah lemak, smoothie berbahan yogurt tanpa tambahan gula berlebih, atau minuman dengan kandungan protein yang seimbang dapat menjadi pilihan yang lebih baik dibanding minuman berpemanis.
Allen menilai tidak ada larangan untuk sesekali menikmati minuman berkalori. Namun, ia menyarankan agar sebagian besar kebutuhan kalori harian berasal dari makanan padat karena lebih efektif memberikan rasa kenyang.
Pendapat tersebut didukung penelitian yang dipublikasikan dalam Current Opinion in Clinical Nutrition and Metabolic Care. Penelitian itu menunjukkan karbohidrat dalam bentuk makanan padat mampu mempertahankan rasa kenyang lebih lama dibandingkan karbohidrat dalam bentuk minuman.
Air Putih Tetap Menjadi Pilihan Terbaik
Bagi sebagian besar orang, air putih tetap menjadi pilihan paling sehat untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh karena tidak mengandung kalori maupun gula tambahan. Selain itu, teh hijau, teh hitam tanpa gula, dan teh herbal juga dapat menjadi alternatif minuman rendah kalori yang kaya senyawa antioksidan.
Mengurangi konsumsi kalori cair merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat mendukung keberhasilan program penurunan berat badan. Dengan lebih cermat memilih minuman, membaca label gizi, dan mengutamakan makanan padat yang bernutrisi, pengelolaan berat badan dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Baca Juga “Amy Schumer Turun 23 Kg, Ternyata Diet Bukan demi Penampilan tapi Bertahan Hidup“