Kemenkes Dorong Literasi Kesehatan Mental Remaja Lewat Panduan Luka Psikologis
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus memperkuat edukasi kesehatan mental bagi remaja melalui pendekatan yang lebih dekat dengan lingkungan sekolah. Salah satu langkah terbaru dilakukan lewat kegiatan bedah buku bertajuk “Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis bagi First Aider di Sekolah”.
Program tersebut menyasar pelajar tingkat SMP dan SMA dengan tujuan meningkatkan literasi kesehatan jiwa sekaligus membekali siswa kemampuan dasar untuk mengenali serta merespons masalah psikologis di lingkungan sekitar.
Kegiatan yang digelar di Jakarta itu menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun kesadaran bahwa kesehatan mental remaja sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
baca juga”Dokter Ungkap Penyebab IQ Anak Bisa Menurun“
Kemenkes Soroti Luka Psikologis yang Sering Tidak Terlihat
Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, mengatakan luka psikologis sering kali tidak mendapat perhatian karena tidak terlihat secara fisik.
Menurut Dante, banyak remaja yang tampak baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya sedang menghadapi tekanan emosional atau masalah mental secara diam-diam.
“Kalau teman jatuh saat bermain, kita langsung membantu karena lukanya terlihat. Namun ketika yang terluka adalah perasaan, sering kali orang bingung harus berbuat apa,” ujar Dante.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya edukasi mengenai pertolongan pertama pada luka psikologis sejak usia sekolah.
Satu dari Tiga Remaja Indonesia Alami Masalah Mental
Dalam kegiatan tersebut, Dante juga mengungkap data dari Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022.
Berdasarkan survei itu, sekitar satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir.
Selain itu, gejala depresi dan kecemasan pada kelompok remaja disebut hampir lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa.
Data tersebut menunjukkan bahwa isu kesehatan mental remaja menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian lebih besar dari berbagai pihak, termasuk sekolah dan keluarga.
Menurut Dante, banyak remaja memilih memendam masalah karena takut dihakimi atau merasa tidak memiliki tempat aman untuk bercerita.
Karena itu, kemampuan mendengarkan dan memberikan dukungan emosional sederhana dinilai sangat penting di lingkungan sekolah.
Panduan Luka Psikologis Ajarkan Empati dan Dukungan Sebaya
Melalui panduan “Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis”, Kemenkes ingin mendorong siswa agar lebih peduli terhadap kondisi teman sebaya.
Program ini tidak menuntut siswa menjadi ahli kesehatan mental. Fokus utamanya adalah membangun empati, keberanian mendengarkan, dan kemampuan memberikan dukungan awal kepada teman yang sedang mengalami tekanan psikologis.
“Kalian tidak harus menjadi ahli. Cukup menjadi manusia yang peduli dan mau mendengarkan tanpa menghakimi,” kata Dante.
Pesan tersebut menjadi inti dari gerakan kesehatan mental yang ingin dibangun Kemenkes di lingkungan sekolah.
Pemerintah berharap sekolah dapat menjadi ruang yang lebih aman, suportif, dan terbuka terhadap pembicaraan mengenai kesehatan jiwa remaja.
Bedah Buku Jadi Bagian Edukasi Kesehatan Jiwa di Sekolah
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan kegiatan bedah buku merupakan bagian dari program edukasi kesehatan jiwa yang terus dikembangkan pemerintah.
Menurut Aji, buku tersebut diperkenalkan sebagai referensi praktis bagi anak dan remaja untuk memahami cara memberikan pertolongan awal pada masalah psikologis.
“Melalui bedah buku ini, kami ingin memberikan pemahaman praktis tentang pertolongan pertama pada luka psikologis,” ujar Aji.
Ia menambahkan program tersebut juga bertujuan memperkuat kesadaran masyarakat bahwa kesehatan mental perlu dibicarakan secara terbuka sejak usia muda.
Kemenkes Libatkan Sekolah dan Lintas Sektor
Kemenkes menilai penanganan kesehatan mental remaja tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian. Karena itu, program edukasi ini melibatkan sekolah, guru, pemerintah daerah, hingga berbagai mitra pembangunan.
Aji Muhawarman mengatakan kolaborasi lintas sektor penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap kondisi psikologis remaja.
“Kami ingin memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, daerah, sekolah, dan berbagai pihak lainnya,” kata Aji.
Program bedah buku tersebut diikuti lebih dari 100 peserta yang terdiri dari siswa, guru, dan perwakilan berbagai institusi terkait.
Ke depan, kegiatan serupa direncanakan hadir dalam beberapa seri lanjutan agar dapat menjangkau lebih banyak sekolah di berbagai daerah Indonesia.
Isu Kesehatan Mental Remaja Makin Jadi Perhatian
Dalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental remaja semakin menjadi perhatian di Indonesia. Tekanan akademik, media sosial, perundungan, hingga masalah keluarga disebut menjadi faktor yang memengaruhi kondisi psikologis anak muda.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa remaja sering kesulitan mencari bantuan profesional karena keterbatasan akses dan stigma sosial terhadap gangguan mental.
Karena itu, pendekatan berbasis sekolah dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan literasi kesehatan jiwa sejak dini.
Lingkungan sekolah dianggap memiliki peran penting dalam membangun sistem dukungan emosional bagi siswa karena interaksi sosial remaja sebagian besar terjadi di area tersebut.
Kemenkes Ingin Remaja Lebih Peduli dan Tidak Merasa Sendirian
Melalui program ini, Kemenkes berharap remaja Indonesia lebih berani membicarakan kesehatan mental dan tidak merasa sendirian ketika menghadapi masalah psikologis.
Pemerintah juga ingin membangun budaya saling mendukung di kalangan pelajar agar siswa lebih peka terhadap kondisi teman di sekitarnya.
Dengan meningkatnya literasi kesehatan mental, diharapkan sekolah dapat menjadi ruang yang lebih aman dan nyaman bagi perkembangan emosional remaja.
Kehadiran panduan pertolongan pertama pada luka psikologis diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat kesadaran bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kualitas hidup generasi muda Indonesia.
baca juga”223 Ribu Nakes di 14 Provinsi Jadi Sasaran Prioritas Vaksinasi Campak Dewasa“