Keto vs Mediterania: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
Diet ketogenik dan diet Mediterania memiliki pendekatan berbeda dalam mengatur asupan makanan. Keduanya dapat membantu menurunkan berat badan, tetapi penelitian terbaru menunjukkan perbedaan pada sejumlah indikator kesehatan metabolik.
Studi yang diterbitkan di jurnal Cell Metabolism pada 27 Agustus 2026 membandingkan diet keto, diet Mediterania, dan diet rendah lemak berbasis nabati. Penelitian melibatkan orang dengan obesitas, prediabetes, dan perlemakan hati.
Hasilnya menunjukkan ketiga pola makan dapat menghasilkan penurunan berat badan sekitar 10 persen. Namun, diet keto memberikan penurunan lemak hati dan perbaikan beberapa indikator metabolik yang lebih besar selama penelitian berlangsung.
Perbedaan Komposisi Diet Keto dan Mediterania
Diet keto membatasi karbohidrat secara ekstrem dan meningkatkan proporsi lemak dalam makanan. Tujuannya adalah mendorong tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi utama melalui proses ketosis.
Baca Juga “Uji Klinis Terbaru: Diet Keto Terbukti Atasi Obesitas dan Kurangi Lemak Hati hingga 67 Persen“
Dalam penelitian tersebut, sekitar 4 persen kalori pada diet keto berasal dari karbohidrat. Lemak menyumbang sekitar 73 persen kalori, sedangkan sisanya berasal dari protein.
Diet Mediterania memiliki komposisi yang lebih seimbang. Pola ini menekankan sayuran, buah, biji-bijian, kacang-kacangan, minyak zaitun, ikan, dan sumber protein lainnya.
Pada penelitian tersebut, sekitar 50 persen kalori diet Mediterania berasal dari karbohidrat. Lemak menyumbang sekitar 35 persen kalori.
Studi Klinis Membandingkan Tiga Pola Diet
Peneliti dari Washington University School of Medicine di St. Louis melakukan uji klinis acak terhadap peserta dengan obesitas, prediabetes, dan perlemakan hati.
Para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok. Mereka mengikuti diet keto, diet Mediterania, atau diet rendah lemak dengan pola makan yang dominan berbasis tumbuhan.
Tim peneliti menyediakan makanan bagi peserta dan melakukan pendampingan melalui ahli diet setiap pekan. Asupan kalori juga disesuaikan agar setiap kelompok mencapai penurunan berat badan sekitar 10 persen.
Sekitar 42 peserta menyelesaikan intervensi selama empat hingga lima bulan. Desain tersebut membantu peneliti membandingkan pengaruh komposisi diet ketika penurunan berat badan relatif serupa.
Diet Keto Pangkas Lemak Hati Lebih Besar
Perbedaan paling menonjol terlihat pada jumlah lemak yang tersimpan di hati. Kelompok keto mengalami penurunan lemak hati rata-rata sebesar 67 persen.
Sementara itu, lemak hati pada kelompok Mediterania turun sekitar 45 persen. Angka serupa juga terlihat pada kelompok diet rendah lemak berbasis nabati.
Peneliti juga menemukan peningkatan sensitivitas insulin hati yang lebih besar pada kelompok keto. Respons tersebut menunjukkan komposisi makanan dapat memengaruhi metabolisme selain efek yang diperoleh dari penurunan berat badan.
Samuel Klein, penulis korespondensi penelitian dari Washington University School of Medicine, mengatakan pengurangan karbohidrat dapat memberikan efek terapeutik pada metabolisme.
Menurut Klein, manfaat tersebut terlihat terutama pada peserta dengan kadar lemak hati tinggi dan prediabetes. Namun, temuan penelitian tetap perlu dibaca berdasarkan karakteristik peserta dan durasi intervensinya.
Diet Keto Lebih Banyak Peserta Keluar dari Prediabetes
Perbedaan juga terlihat pada status prediabetes peserta setelah intervensi. Sekitar 50 persen peserta dalam kelompok keto tidak lagi memenuhi kriteria prediabetes.
Pada kelompok Mediterania, proporsinya mencapai sekitar 29 persen. Sementara itu, sekitar 7 persen peserta dari kelompok diet rendah lemak berbasis nabati tidak lagi memenuhi kriteria tersebut.
Ketiga kelompok tetap mengalami perbaikan metabolik setelah menurunkan berat badan. Sensitivitas insulin otot meningkat sekitar 50 persen secara keseluruhan.
Temuan tersebut menunjukkan penurunan berat badan sendiri memiliki manfaat metabolik. Namun, komposisi makanan tampaknya memberikan pengaruh tambahan pada beberapa fungsi metabolisme, terutama pada hati.
Diet Mediterania Tetap Menawarkan Pola Makan Fleksibel
Hasil studi tidak berarti diet keto secara otomatis lebih baik untuk semua orang. Diet Mediterania memiliki pola makan yang lebih beragam dan tidak membatasi karbohidrat secara ekstrem.
Pola Mediterania mengutamakan makanan utuh dan sumber lemak tidak jenuh seperti minyak zaitun serta kacang-kacangan. Ikan, sayuran, buah, dan biji-bijian juga menjadi bagian penting dari pola tersebut.
Fleksibilitas tersebut dapat membuat diet Mediterania lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan mempertahankan pola makan dalam jangka panjang menjadi pertimbangan penting ketika memilih diet.
Karena itu, hasil uji klinis terbaru sebaiknya dipahami sebagai bukti mengenai respons metabolik dalam kelompok tertentu. Penelitian tersebut belum cukup untuk menyatakan bahwa keto merupakan pilihan terbaik bagi seluruh populasi.
Keto Memiliki Tantangan dalam Penerapan
Diet keto membutuhkan pembatasan karbohidrat yang sangat ketat. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih sulit mempertahankan pola makan dalam jangka panjang.
Pembatasan makanan juga dapat mengurangi asupan serat jika menu tidak dirancang dengan baik. Karena itu, pemilihan sumber lemak, protein, sayuran rendah karbohidrat, dan makanan kaya serat tetap penting.
Perubahan pola makan secara drastis juga dapat menimbulkan keluhan pada sebagian orang. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat membantu menyesuaikan pola makan dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan individu.
Mana yang Lebih Baik, Keto atau Mediterania?
Jika fokusnya adalah perubahan lemak hati dan indikator metabolik pada orang dengan obesitas, prediabetes, serta perlemakan hati, studi terbaru memberikan hasil yang lebih kuat untuk diet keto.
Namun, penelitian tersebut berlangsung sekitar empat hingga lima bulan dan melibatkan kelompok peserta yang relatif terbatas. Karena itu, hasilnya belum dapat digunakan untuk menentukan diet terbaik dalam jangka panjang bagi semua orang.
Diet Mediterania tetap menjadi pilihan yang relevan bagi orang yang menginginkan pola makan lebih fleksibel. Pemilihan diet juga perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan, preferensi makanan, kemampuan mempertahankan pola makan, dan tujuan yang ingin dicapai.
Persiapan Sebelum Memilih Pola Diet
Sebelum memulai diet keto atau mengubah pola makan secara signifikan, seseorang dapat berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi. Langkah tersebut semakin penting bagi orang yang memiliki diabetes, gangguan ginjal, atau kondisi medis lainnya.
Pemeriksaan seperti gula darah, HbA1c, dan profil lipid dapat membantu memberikan gambaran kondisi metabolik. Hasil pemeriksaan juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun target kesehatan.
Rencana menu sebaiknya menggunakan bahan makanan bergizi dan tidak hanya berfokus pada jumlah kalori. Untuk diet keto, perhatian khusus perlu diberikan pada kualitas lemak dan kecukupan serat.
Kesimpulan: Pilihan Diet Harus Sesuai Kondisi Individu
Studi terbaru menunjukkan keto memberikan manfaat metabolik yang lebih besar dibandingkan diet Mediterania pada kelompok peserta tertentu. Penurunan lemak hati mencapai 67 persen pada kelompok keto, dibandingkan 45 persen pada kelompok Mediterania.
Meski demikian, hasil tersebut tidak menjadikan keto sebagai pilihan universal. Diet Mediterania menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel dan tetap dapat memberikan manfaat kesehatan ketika diterapkan secara konsisten.
Pilihan terbaik seharusnya mempertimbangkan tujuan kesehatan dan kemampuan seseorang mempertahankan pola makan. Bagi orang dengan kondisi medis tertentu, keputusan diet sebaiknya dilakukan bersama tenaga kesehatan agar manfaat dan risikonya dapat dipertimbangkan secara tepat.
Baca Juga “Resep Diet Aman Buat yang Lagi GERD, Catat Nih Saran Dokter Gizi“