Kurang Tidur Bisa Gagalkan Diet, Ini Penjelasannya
Menurunkan atau menjaga berat badan tidak hanya membutuhkan pengaturan makanan dan olahraga. Durasi serta kualitas tidur juga dapat memengaruhi rasa lapar, pilihan makanan, dan aktivitas fisik sehari-hari.
Tidur yang kurang atau tidak berkualitas secara berulang dapat membuat upaya menjaga berat badan menjadi lebih sulit. Kondisi ini bukan berarti kurang tidur otomatis menyebabkan kenaikan berat badan, tetapi dapat memengaruhi sejumlah perilaku yang berkaitan dengan keseimbangan energi.
Baca Juga “Lagi Diet Gula? Ini 5 Rekomendasi Camilan Rendah Gula-Tips Kesehatan“
Tidur Kurang dari Enam Jam Dapat Memengaruhi Nafsu Makan
Edukator dan pelatih tidur di Indonesia, Vishal Dasani, menjelaskan hubungan antara tidur dan pengaturan berat badan melalui unggahan videonya di Instagram.
Menurut Vishal, tidur kurang dari enam jam atau tidur yang tidak restoratif secara konsisten dapat memengaruhi mekanisme tubuh yang berkaitan dengan rasa lapar dan kenyang.
“Kalau kamu sedang berusaha menjaga berat badan, jangan cuma perhatikan apa yang kamu makan. Coba perhatikan juga bagaimana kamu tidur,” ujar Vishal dalam unggahannya.
Ia menjelaskan bahwa seseorang yang kurang tidur dapat lebih mudah merasa lapar. Kondisi tersebut juga dapat membuat rasa kenyang lebih sulit muncul dan meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan berkalori tinggi.
Kurang Tidur Dapat Meningkatkan Keinginan Makan
Ketika tubuh tidak memperoleh waktu istirahat yang cukup, seseorang dapat mengalami perubahan pada pengaturan nafsu makan. Rasa lelah juga dapat membuat seseorang lebih sulit mengendalikan pilihan makanan.
Vishal menyebut peningkatan keinginan makan atau cravings sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan. Makanan dengan rasa manis, gurih, atau kandungan kalori tinggi dapat terasa lebih menarik ketika tubuh mengalami kelelahan.
Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi orang yang sedang menjalankan program penurunan berat badan. Keinginan makan yang lebih kuat dapat membuat seseorang lebih sulit mempertahankan pola makan yang sudah direncanakan.
Tubuh Lelah Bisa Membuat Aktivitas Fisik Berkurang
Dampak kurang tidur tidak hanya berkaitan dengan makanan. Rasa lelah pada siang hari juga dapat memengaruhi keinginan seseorang untuk melakukan aktivitas fisik.
Ketika energi terasa rendah, seseorang mungkin memilih lebih banyak duduk atau beristirahat. Aktivitas seperti berjalan kaki, berolahraga, atau melakukan pekerjaan rumah juga dapat berkurang.
Menurut Vishal, kombinasi antara rasa lapar yang meningkat dan aktivitas fisik yang menurun dapat memengaruhi keseimbangan energi.
“Lebih lapar, lebih susah kenyang, cravings meningkat, lebih sedikit bergerak. Kondisi ini membuat kita lebih mudah makan melebihi kebutuhan tubuh dan akhirnya masuk ke dalam kondisi kalori surplus,” jelasnya.
Mengapa Kalori Surplus Dapat Menghambat Penurunan Berat Badan?
Berat badan dipengaruhi oleh keseimbangan antara energi yang masuk melalui makanan dan energi yang digunakan tubuh. Jika asupan energi secara konsisten melebihi pengeluaran, tubuh dapat menyimpan kelebihan energi.
Kurang tidur dapat berkontribusi secara tidak langsung terhadap kondisi tersebut. Seseorang mungkin makan lebih banyak sekaligus bergerak lebih sedikit ketika mengalami kelelahan.
Namun, hubungan tidur dan berat badan tidak sesederhana perhitungan kalori. Kualitas tidur, pola makan, aktivitas fisik, stres, kondisi kesehatan, dan kebiasaan sehari-hari dapat saling memengaruhi.
Kurang Tidur Tidak Otomatis Membuat Berat Badan Naik
Vishal menekankan bahwa kurang tidur bukan penyebab tunggal kenaikan berat badan. Seseorang tidak otomatis mengalami kenaikan berat badan hanya karena tidur kurang pada satu atau beberapa malam.
Masalah dapat muncul ketika gangguan tidur berlangsung terus-menerus. Dalam kondisi tersebut, perubahan nafsu makan, pilihan makanan, energi, dan aktivitas fisik dapat membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih menantang.
Karena itu, tidur sebaiknya dipandang sebagai salah satu bagian dari gaya hidup sehat. Memperbaiki waktu tidur tidak menggantikan pola makan seimbang atau aktivitas fisik, tetapi dapat membantu mendukung keduanya.
Berapa Lama Waktu Tidur yang Dibutuhkan Orang Dewasa?
Kebutuhan tidur setiap orang dapat berbeda, tetapi orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar tujuh hingga sembilan jam tidur setiap malam. Durasi saja bukan satu-satunya indikator karena kualitas dan keteraturan tidur juga penting.
Tidur yang cukup membantu tubuh menjalankan berbagai fungsi penting. Istirahat yang baik juga dapat mendukung konsentrasi, suasana hati, pemulihan tubuh, serta kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.
Bagi orang yang sedang berdiet, menjaga jadwal tidur yang konsisten dapat menjadi langkah sederhana untuk mendukung perubahan gaya hidup. Kebiasaan tersebut perlu berjalan bersama pola makan bergizi dan aktivitas fisik yang sesuai kemampuan.
Perbaiki Tidur untuk Mendukung Program Diet
Jika ingin menurunkan berat badan, jangan hanya fokus menghitung makanan dan olahraga. Perhatikan pula apakah tubuh memperoleh waktu istirahat yang cukup dan tidur terasa memulihkan.
Menetapkan waktu tidur dan bangun yang konsisten dapat membantu membangun rutinitas. Membatasi paparan cahaya terang sebelum tidur serta menciptakan kamar yang nyaman juga dapat mendukung kualitas istirahat.
Jika gangguan tidur berlangsung lama atau mengganggu aktivitas sehari-hari, evaluasi dengan tenaga kesehatan dapat menjadi pilihan. Penyebab gangguan tidur dapat beragam dan membutuhkan penanganan yang sesuai.
Pada akhirnya, diet yang berkelanjutan tidak hanya membutuhkan menu yang tepat. Tidur berkualitas, aktivitas fisik, pengelolaan stres, dan kebiasaan sehari-hari juga perlu diperhatikan agar upaya menjaga berat badan lebih realistis dan dapat dipertahankan.
Baca Juga “Deretan Selebritas Sukses Diet, Ada yang Turun Puluhan Kilogram“