Lari dan Kesehatan Mental, Ini Penjelasan Dokter Ikhsanuddin

Alasan Lari Bisa Membuat Bahagia Menurut Dokter dan Manfaatnya bagi Kesehatan Mental

Lari menjadi salah satu olahraga yang semakin diminati masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Aktivitas ini tidak hanya populer karena tren gaya hidup sehat, tetapi juga karena memiliki manfaat besar terhadap kondisi psikologis dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Dokter umum sekaligus kreator konten kesehatan, dr. Ikhsanuddin Qoth’i, menjelaskan bahwa hubungan antara tubuh dan pikiran tidak dapat dipisahkan. Aktivitas fisik seperti lari dapat memengaruhi kondisi mental seseorang melalui berbagai respons biologis yang terjadi di dalam tubuh.

Menurutnya, tubuh akan melepaskan sejumlah zat kimia alami seperti endorfin, dopamin, dan serotonin saat seseorang melakukan olahraga. Senyawa tersebut dikenal berperan dalam membantu meningkatkan suasana hati, memberikan rasa nyaman, serta menciptakan perasaan lebih rileks setelah beraktivitas.

“Ketika kita berbicara mengenai olahraga, pikiran dan tubuh memiliki hubungan yang saling memengaruhi. Saat tubuh bergerak dan menjadi lebih sehat, kondisi mental juga dapat ikut merasakan dampak positif,” ujar dr. Ikhsanuddin dalam konferensi pers Brookfarm Almond Run 2026 pada Kamis, 18 Juni 2026.

baca juga”Cara Menjaga Tubuh Tetap Sehat Meski Duduk Seharian“

Pelepasan Endorfin, Dopamin, dan Serotonin Membantu Memperbaiki Mood

Saat berlari, tubuh mengalami berbagai proses fisiologis yang mendukung kesehatan mental. Pelepasan hormon dan neurotransmiter seperti endorfin, dopamin, dan serotonin membantu seseorang merasakan sensasi senang setelah berolahraga.

Endorfin dikenal sebagai zat yang berkaitan dengan perasaan nyaman dan dapat membantu mengurangi persepsi terhadap rasa tidak nyaman. Sementara dopamin berperan dalam sistem penghargaan otak dan motivasi, sedangkan serotonin berkaitan dengan pengaturan suasana hati serta perasaan tenang.

Kombinasi respons biologis tersebut menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang merasakan perubahan suasana hati menjadi lebih positif setelah melakukan aktivitas lari secara rutin.

Lari Membantu Mengurangi Stres dan Meningkatkan Kualitas Hidup

Selain meningkatkan rasa bahagia, lari juga memberikan manfaat lain bagi kesehatan mental. Aktivitas ini dapat membantu mengurangi tingkat stres, memperbaiki kualitas tidur, meningkatkan konsentrasi, serta membuat tubuh terasa lebih bertenaga sepanjang hari.

Menurut dr. Ikhsanuddin, manfaat olahraga tidak seharusnya hanya dilihat dari perubahan bentuk tubuh atau penurunan berat badan. Lari merupakan bagian dari kebutuhan manusia untuk menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental.

Tren meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga lari sejak masa pandemi COVID-19 juga menunjukkan perubahan pola pikir terhadap pentingnya menjaga kesehatan. Banyak orang mulai menjadikan olahraga sebagai kebiasaan untuk mempertahankan kualitas hidup yang lebih baik.

Konsistensi Menjadi Kunci Mendapatkan Manfaat Lari

Meski memiliki banyak manfaat, lari tidak harus dilakukan dengan kecepatan tinggi atau jarak yang terlalu jauh. Hal yang paling penting adalah membangun kebiasaan olahraga yang konsisten dan menyesuaikannya dengan kemampuan serta kondisi tubuh masing-masing.

Memulai lari dengan durasi pendek dan intensitas ringan dapat menjadi langkah yang lebih aman bagi pemula. Seiring waktu, durasi dan intensitas latihan dapat ditingkatkan secara bertahap agar tubuh mampu beradaptasi dengan baik.

Lari Menjadi Cara Sederhana Menjaga Keseimbangan Tubuh dan Pikiran

Olahraga lari membuktikan bahwa aktivitas sederhana dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan secara menyeluruh. Dengan rutin bergerak, tubuh tidak hanya menjadi lebih bugar, tetapi juga mendapatkan dampak positif terhadap suasana hati, pengelolaan stres, dan kualitas hidup.

Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental dan fisik terus meningkat. Lari dapat menjadi pilihan olahraga yang mudah dilakukan, murah, dan efektif untuk membangun gaya hidup yang lebih sehat serta seimbang dalam jangka panjang.

baca juga”Kolesterol Tembus 300 di Usia Muda? Bisa Jadi Hiperkolesterolemia Familial“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *