Pakar Ungkap Dampak Anak Terlalu Lama Main Media Sosial

Pakar Jelaskan Dampak Anak Terlalu Lama Menggunakan Media Sosial terhadap Kesehatan Mental

Penggunaan media sosial yang berlebihan pada anak dapat menimbulkan berbagai dampak terhadap perkembangan sosial, emosional, dan kesehatan mental mereka. Meski platform digital memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi, interaksi yang tidak terkontrol dapat mengurangi kualitas hubungan sosial di kehidupan nyata.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, Profesor Rachmah Ida, menjelaskan bahwa anak yang terlalu lama berada di media sosial berisiko mengalami keterasingan sosial karena merasa cukup dengan interaksi yang terjadi di dunia digital.

Menurutnya, berkurangnya interaksi secara langsung dapat menghambat kemampuan anak dalam membangun hubungan sosial, memahami perasaan orang lain, serta mengembangkan keterampilan komunikasi yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

baca juga”Penyebab Tubuh Pelari Tak Prima Saat Maraton

Risiko Keterasingan Sosial dan Menurunnya Kemampuan Empati Anak

Rachmah Ida menyebut paparan media sosial yang berlebihan dalam jangka panjang dapat membentuk pola hubungan yang lebih individualis. Kondisi tersebut membuat anak berpotensi mengalami kesulitan dalam mengenali dan memahami emosi, baik emosi diri sendiri maupun orang lain.

Selain itu, ketergantungan terhadap interaksi digital dapat mengurangi kesempatan anak untuk belajar menyelesaikan konflik, bekerja sama, serta membangun hubungan sosial yang sehat di lingkungan sekitar.

Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Mengawasi Penggunaan Media Sosial

Rachmah menegaskan bahwa keluarga menjadi pihak utama dalam membentuk kebiasaan bermedia sosial yang sehat. Orang tua perlu menjadi teladan sekaligus pendamping agar anak memahami manfaat serta risiko penggunaan teknologi digital.

“Anak-anak saat ini tumbuh bersama media sosial. Orang tua merupakan role model utama yang berperan membentuk nilai, karakter, dan cara anak memahami lingkungan sosialnya,” ujar Rachmah, seperti dikutip dari laman resmi Universitas Airlangga.

Selain keluarga, sekolah juga memiliki peran penting dalam memperkuat interaksi sosial secara langsung. Kegiatan pembelajaran yang melibatkan diskusi, kolaborasi, dan aktivitas kelompok dapat membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi dan empati.

Literasi Digital Jadi Kunci Menghadapi Risiko Dunia Maya

Di era digital, kemampuan literasi digital menjadi keterampilan yang perlu dimiliki anak maupun orang dewasa. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga memahami keamanan, etika, dan kredibilitas informasi yang diperoleh di internet.

Rachmah mengingatkan bahwa ruang digital memiliki berbagai risiko, mulai dari penyebaran hoaks, manipulasi informasi, hingga ancaman predator digital yang dapat mengeksploitasi data pribadi anak.

Ia mengimbau masyarakat untuk menggunakan media sosial secara bijak, sesuai kebutuhan, dan dengan kesadaran terhadap risiko yang mungkin muncul.

Penggunaan media sosial yang sehat membutuhkan keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi di dunia nyata. Dengan pendampingan orang tua, dukungan sekolah, serta peningkatan literasi digital, anak dapat memanfaatkan teknologi secara positif tanpa mengabaikan perkembangan sosial dan kesehatan mental mereka.

baca juga”Dokter Urologi Ungkap Frekuensi Buang Air Kecil yang Normal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *