Anak dari Keluarga Broken Home Bisa Tetap Tumbuh Hangat, Psikolog UI Ungkap Rahasianya
Banyak orang tua khawatir bahwa kondisi keluarga yang tidak harmonis atau “broken home” dapat memengaruhi perkembangan kepribadian anak. Namun, menurut psikolog, anak-anak tetap memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi pribadi yang hangat, peduli, dan empatik meskipun tidak dibesarkan dalam keluarga yang ideal. Psikolog Klinis Anak dan Remaja dari Lembaga Psikologi Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, menjelaskan bahwa faktor utama dalam perkembangan karakter anak adalah adanya figur dewasa yang memberikan dukungan emosional secara konsisten.
baca juga”Waspada Brain Rot: Dampak Konsumsi Konten Digital Instan“
Pentingnya Figur Dewasa yang Mendukung Emosional Anak
Vera menekankan bahwa figur dewasa yang dapat memberikan dukungan emosional tidak harus selalu berasal dari orang tua. Anak juga bisa mendapatkan dukungan ini dari berbagai figur di luar keluarga inti, seperti guru, kakek-nenek, saudara, atau orang dewasa lain yang memiliki hubungan dekat dengan anak.
“Banyak anak berkembang menjadi pribadi yang hangat dan peduli berkat pengaruh figur signifikan dalam hidupnya, seperti guru atau kakek-nenek yang memberi dukungan emosional,” kata Vera dalam wawancara dengan Antara, Rabu (10/3/2026).
Yang terpenting, menurut Vera, adalah anak memiliki setidaknya satu figur dewasa yang peduli dan kompeten dalam pengasuhan anak. Figur ini perlu memberikan rasa aman, dukungan, serta penerimaan secara konsisten agar anak merasa dihargai dan diterima apa adanya.
Pengaruh Lingkungan yang Memberikan Rasa Aman Secara Emosional
Vera menjelaskan bahwa lingkungan yang memberikan rasa aman secara emosional adalah fondasi penting bagi perkembangan karakter anak. Anak yang merasa diterima dan dihargai dalam lingkungan sosialnya akan lebih mudah mengembangkan empati terhadap orang lain. Ini karena mereka belajar memahami perasaan orang lain dan merasa dihargai atas siapa mereka sebenarnya.
“Karakter anak yang hangat dan peduli biasanya tumbuh dalam lingkungan yang memberikan rasa aman secara emosional.Anak yang merasa diterima dan dicintai apa adanya akan lebih mudah mengembangkan empati terhadap orang lain,” ujar Vera.
Dukungan Emosional yang Mengarah pada Perilaku Empatik
Anak yang tumbuh dengan dukungan emosional yang kuat akan lebih cenderung meniru perilaku empatik dalam interaksi sosial mereka. Menurut Vera, sikap empati yang ditunjukkan oleh orang tua atau figur pengasuh sangat penting, karena anak akan menjadikannya sebagai contoh dalam membangun hubungan sosial yang sehat.
Salah satu bentuk perlakuan empatik kepada anak adalah dengan mendengarkan dan memahami perasaan mereka. Ketika anak merasa didengar dan dipahami, mereka akan belajar untuk menghargai perasaan orang lain. Proses ini, menurut Vera, memainkan peran besar dalam membentuk karakter anak yang peduli dan hangat.
Kualitas Hubungan Emosional Lebih Penting dari Kondisi Keluarga yang Sempurna
Vera juga menegaskan bahwa kualitas hubungan emosional yang dibangun dengan anak jauh lebih penting daripada sekadar kondisi keluarga yang terlihat sempurna dari luar. Dukungan emosional yang diberikan oleh figur dewasa yang kompeten dapat memberikan fondasi yang kokoh bagi perkembangan emosional anak. Dengan adanya dukungan, penerimaan, dan perhatian yang konsisten, anak-anak dari keluarga broken home tetap memiliki potensi untuk berkembang menjadi pribadi yang hangat, empatik, dan peduli pada sesama.
Kesimpulan:
Meskipun tumbuh dalam keluarga yang kurang harmonis, anak-anak tetap bisa berkembang menjadi pribadi yang penuh kasih sayang dan empati. Dukungan emosional yang diberikan oleh figur dewasa yang kompeten dan konsisten sangat penting untuk perkembangan karakter anak. Anak-anak yang merasa diterima, dihargai, dan dicintai apa adanya cenderung tumbuh dengan empati yang tinggi terhadap orang lain. Dengan adanya dukungan ini, anak-anak dari keluarga broken home tetap memiliki peluang untuk menjadi pribadi yang hangat dan peduli.
Ke depan, sangat penting bagi orang tua atau figur pengasuh untuk memperhatikan kualitas hubungan emosional dengan anak. Dalam hal ini, hubungan yang penuh kasih, perhatian, dan dukungan emosional akan berperan besar dalam membentuk masa depan anak yang sehat secara emosional dan sosial.
baca juga”Idulfitri di Depan Mata, BPOM Temukan 56 Ribu Produk Pangan Ilegal hingga Kedaluwarsa“