Dokter PERKI: Stres dan Kelelahan Memperburuk Kondisi Pasien Jantung, Bukan Penyebab Utamanya
Pengendalian Emosi, Istirahat yang Cukup, dan Gaya Hidup Sehat Berperan Menjaga Kondisi Jantung Tetap Stabil
Penyakit jantung tidak muncul hanya karena seseorang mengalami tekanan mental atau kelelahan akibat aktivitas sehari-hari. Dokter spesialis jantung menegaskan bahwa kedua kondisi tersebut lebih sering berfungsi sebagai pemicu yang memperburuk keluhan pada pasien yang telah memiliki gangguan pada sistem kardiovaskular.
Baca Juga “8 Ide Olahan Alpukat untuk Inspirasi Jualan Kekinian yang Unik dan Mudah Dipasarkan“
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menjelaskan bahwa penyakit jantung berkembang melalui proses yang dipengaruhi banyak faktor. Karena itu, tidak tepat jika stres atau kelelahan dianggap sebagai penyebab utama munculnya penyakit tersebut.
Menurut Susetyo, faktor-faktor seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kadar kolesterol yang tidak terkendali, kebiasaan merokok, obesitas, hingga kurang bergerak memiliki kontribusi yang jauh lebih besar terhadap kerusakan pembuluh darah dan fungsi jantung. Sementara itu, stres dan kelelahan lebih berperan mempercepat timbulnya gejala pada pasien yang memang sudah memiliki penyakit jantung.
Ia mencontohkan pasien dengan penyakit jantung koroner sering kali merasakan nyeri dada ketika berada dalam tekanan emosional atau setelah menjalani aktivitas yang sangat melelahkan. Respons tubuh terhadap stres menyebabkan pembuluh darah menyempit sehingga aliran darah menuju otot jantung semakin berkurang apabila sebelumnya sudah terdapat sumbatan atau penyempitan.
Kondisi tersebut berbeda dengan pasien gagal jantung. Pada kelompok ini, kelelahan fisik umumnya menjadi faktor yang lebih dominan dalam memperberat keluhan. Aktivitas yang melebihi kemampuan tubuh dapat meningkatkan beban kerja jantung sehingga gejala seperti sesak napas dan mudah lelah menjadi lebih nyata.
Dalam sesi edukasi media yang digelar Daewoong bersama PERKI di Jakarta, Kamis, Susetyo menegaskan bahwa istilah “pemicu” tidak sama dengan “penyebab”. Menurutnya, tekanan pekerjaan yang tinggi maupun kurangnya waktu istirahat dapat memunculkan keluhan lebih cepat, tetapi kondisi tersebut bukan asal mula seseorang mengalami penyakit jantung.
Ia juga mengingatkan bahwa stres merupakan bagian dari kehidupan yang tidak mungkin dihindari sepenuhnya. Oleh karena itu, upaya yang lebih realistis adalah membangun kemampuan mengelola stres agar tidak memberikan dampak berlebihan terhadap kesehatan, termasuk kesehatan jantung.
Selain menjaga kondisi psikologis, pasien disarankan memenuhi kebutuhan tidur selama enam hingga delapan jam setiap malam. Tidur yang berkualitas membantu tubuh melakukan proses pemulihan, menjaga keseimbangan hormon, serta mendukung fungsi sistem kardiovaskular. Sebaliknya, kurang tidur dalam waktu lama dapat meningkatkan tekanan darah dan memperbesar risiko gangguan metabolisme.
Penerapan pola hidup sehat juga tetap menjadi fondasi utama dalam mengendalikan penyakit jantung. Dokter menyarankan masyarakat mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi asupan garam, gula, dan lemak jenuh, rutin berolahraga sesuai kondisi kesehatan, menghentikan kebiasaan merokok, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk memantau faktor-faktor risiko.
Data dari berbagai organisasi kesehatan menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga memerlukan perubahan gaya hidup yang dilakukan secara konsisten sejak dini.
Susetyo menilai keberhasilan mengendalikan penyakit jantung bergantung pada kombinasi terapi medis, kepatuhan menjalani pengobatan, serta disiplin menerapkan pola hidup sehat. Dengan memahami bahwa stres dan kelelahan hanya berperan sebagai faktor pencetus, pasien diharapkan dapat lebih fokus mengendalikan faktor risiko yang benar-benar berpengaruh terhadap perkembangan penyakit sekaligus menjaga kualitas hidup dalam jangka panjang.
Versi ini memiliki tingkat keunikan yang jauh lebih tinggi karena mengubah alur penyampaian, struktur paragraf, pilihan diksi, dan cara menjelaskan hubungan sebab-akibat tanpa mengubah makna informasi.
Baca Juga “Tubuh kurus bukan jaminan bebas kolesterol tinggi“