Studi Ungkap Diet Keto Dapat Memengaruhi Risiko Tumor Usus Halus pada Model Tikus
Diet ketogenik atau diet keto dikenal sebagai pola makan rendah karbohidrat dengan konsumsi lemak tinggi yang banyak digunakan untuk membantu penurunan berat badan. Selain itu, metode ini juga tengah diteliti sebagai pendamping terapi pada beberapa penyakit, termasuk kanker, karena dapat mengubah metabolisme tubuh melalui penurunan kadar glukosa dan insulin serta peningkatan produksi keton.
Baca Juga “Diet Session End Pushed Off to July 25“
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa efek diet keto tidak selalu memberikan dampak yang sama pada seluruh jaringan tubuh. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature menemukan bahwa pola makan tinggi lemak tersebut dapat mempercepat pembentukan tumor pada usus halus tikus yang memiliki risiko genetik kanker.
Di sisi lain, penelitian yang sama menemukan efek berbeda pada bagian usus besar atau kolon. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh diet terhadap kesehatan sangat bergantung pada jenis jaringan, kondisi biologis, serta faktor risiko individu.
Penelitian MIT Uji Dampak Diet Keto pada Tikus Rentan Tumor
Penelitian dilakukan oleh para ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat, dengan menggunakan model tikus yang memiliki perubahan gen pada APC.
Perubahan gen tersebut membuat tikus lebih rentan mengalami adenoma, yaitu tumor awal yang dapat berkembang menjadi kanker usus. Model ini digunakan untuk mempelajari mekanisme yang mirip dengan kondisi familial adenomatous polyposis (FAP) pada manusia.
Dalam penelitian tersebut, tikus dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan pola makan yang diberikan. Kelompok pertama menerima makanan kontrol, kelompok kedua mendapatkan makanan tinggi lemak dan tinggi kalori, sedangkan kelompok ketiga menjalani diet ketogenik dengan kandungan lemak sangat tinggi.
Formula diet keto dalam eksperimen tersebut mengandung sekitar 80 persen lemak dan menggunakan lard atau lemak babi sebagai sumber utama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus yang menjalani diet keto tidak mengalami obesitas. Namun, jumlah serta ukuran beban tumor pada usus halus mereka meningkat dibandingkan kelompok kontrol.
Tikus dalam kelompok keto juga memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih pendek. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan tumor tidak hanya berkaitan dengan kenaikan berat badan atau obesitas.
Aktivitas Pembakaran Lemak Diduga Menjadi Pemicu Utama
Pada awal penelitian, ilmuwan menduga bahwa peningkatan kadar keton menjadi penyebab berkembangnya tumor.
Ketika tubuh menerima asupan karbohidrat yang sangat rendah, metabolisme akan beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi. Proses tersebut menghasilkan keton, termasuk beta-hidroksibutirat atau BHB.
Sebelumnya, penelitian tahun 2022 menunjukkan bahwa BHB berpotensi menghambat pembelahan sel abnormal dan pertumbuhan tumor pada kolon tikus.
Namun, penelitian terbaru menemukan hasil berbeda. Para peneliti tidak menemukan bahwa keton secara langsung menjadi penyebab peningkatan tumor usus halus.
Ketika jalur produksi keton dihentikan, tumor tetap berkembang. Sebaliknya, peningkatan kadar keton tanpa menjalani pola makan tinggi lemak juga tidak menghasilkan efek serupa.
Peneliti kemudian menemukan bahwa proses oksidasi asam lemak menjadi faktor yang lebih berpengaruh.
Oksidasi asam lemak merupakan proses ketika sel menggunakan lemak sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi. Proses ini mengaktifkan protein bernama PPAR yang berperan dalam meningkatkan aktivitas sel punca pada usus.
Sel punca usus sebenarnya memiliki fungsi penting dalam memperbaiki lapisan usus yang mengalami kerusakan. Namun, pada jaringan dengan kerentanan genetik tertentu, peningkatan aktivitas sel punca dapat memperbesar peluang munculnya sel abnormal.
Dalam penelitian tersebut, ketika aktivitas PPAR atau protein CPT1A yang membantu proses pembakaran lemak dihambat, peningkatan aktivitas sel punca dan pembentukan adenoma akibat diet keto ikut berkurang.
Efek Diet Keto Berbeda pada Usus Halus dan Usus Besar
Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah perbedaan respons antara usus halus dan usus besar.
Diet keto mempercepat perkembangan tumor pada usus halus tikus yang rentan kanker. Namun, pola makan yang sama justru menekan pembentukan tumor pada kolon dalam model penelitian tersebut.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa pengaruh makanan tidak dapat disimpulkan secara umum hanya berdasarkan satu organ atau satu mekanisme.
Setiap jaringan tubuh memiliki karakteristik berbeda, termasuk jenis sel, lingkungan metabolik, mikrobioma, serta cara memanfaatkan nutrisi.
Karena itu, menyebut sebuah pola makan sebagai sepenuhnya “baik” atau “buruk” untuk kanker dapat menjadi kesimpulan yang terlalu sederhana.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa efek konsumsi lemak dari makanan tidak selalu sama dengan konsumsi keton dalam bentuk suplemen atau minuman.
Cara tubuh memproses nutrisi menjadi faktor penting dalam menentukan dampak biologisnya.
Diet Keto Belum Terbukti Menyebabkan Kanker pada Manusia
Meski penelitian menunjukkan peningkatan tumor pada tikus, hasil tersebut belum membuktikan bahwa diet keto menyebabkan kanker usus halus pada manusia.
Studi ini dilakukan pada hewan dengan kondisi genetik tertentu yang memang memiliki risiko tinggi membentuk tumor.
Selain itu, komposisi diet yang digunakan dalam penelitian sangat berbeda dengan pola diet keto yang dilakukan banyak orang.
Pada manusia, diet keto dapat terdiri dari berbagai sumber lemak seperti ikan, minyak zaitun, alpukat, kacang-kacangan, keju, mentega, hingga daging.
Perbedaan jenis lemak, durasi diet, kondisi metabolisme, pola mikrobioma usus, serta faktor genetik dapat menghasilkan dampak yang berbeda.
Karena itu, para ahli masih membutuhkan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah temuan tersebut juga berlaku pada manusia.
Di sisi lain, manfaat diet keto untuk mencegah atau mengobati kanker pada manusia juga belum memiliki bukti yang cukup kuat.
Belum ada pola makan, suplemen, vitamin, maupun bahan herbal tertentu yang terbukti dapat menyembuhkan kanker atau mencegah kanker kembali muncul.
Kelompok Tertentu Perlu Lebih Berhati-hati Menjalani Diet Keto
Temuan penelitian ini menjadi perhatian khusus bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi terhadap kanker saluran cerna.
Orang dengan familial adenomatous polyposis (FAP), mutasi gen APC, banyak polip usus, atau riwayat keluarga kuat terhadap kanker pencernaan sebaiknya lebih berhati-hati sebelum menjalani pola makan tinggi lemak.
Pada pasien FAP, polip duodenum dapat ditemukan pada sekitar 50 hingga 90 persen kasus. Risiko kanker usus halus sepanjang hidup juga diperkirakan mencapai sekitar 4 hingga 12 persen, terutama pada bagian duodenum.
Meski penelitian tikus tidak dapat langsung dijadikan dasar untuk melarang diet keto pada pasien FAP, kelompok tersebut sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengubah pola makan secara ekstrem.
Pasien kanker juga perlu mempertimbangkan kondisi tubuh sebelum menjalani diet ketat. Diet keto dapat menyebabkan penurunan berat badan dan membatasi variasi makanan.
Pada pasien yang mengalami kehilangan berat badan, massa otot, atau penurunan nafsu makan akibat penyakit dan terapi, pembatasan makanan dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi.
Baca Juga “Diet Ekstrem Karina Aespa Terungkap, Turun 4 Kg Sehari dengan Cara yang Bikin Kaget“