Studi Terbaru Ungkap Pengaruh Zat Besi terhadap Peluang Kehamilan
Banyak perempuan mengonsumsi vitamin dan suplemen saat menjalani program hamil. Salah satu nutrisi yang paling sering dikaitkan dengan kesuburan adalah zat besi. Mineral ini dipercaya dapat membantu meningkatkan peluang kehamilan dan menjaga kesehatan calon ibu selama masa persiapan kehamilan.
Baca Juga “BPJPH Dorong Percepatan Sertifikasi Halal Produk Suplemen Kesehatan“
Namun, hasil penelitian terbaru menunjukkan hubungan antara konsumsi zat besi dan peluang hamil tidak selalu konsisten. Sejumlah studi bahkan menemukan bahwa manfaat zat besi terhadap kesuburan bergantung pada kondisi kesehatan masing-masing perempuan.
Penelitian 2019 Sebut Zat Besi Tidak Berpengaruh Signifikan
Peneliti dari Boston University pernah melakukan studi terkait hubungan asupan zat besi dengan peluang kehamilan. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam The Journal of Nutrition pada 2019.
Hasil penelitian menunjukkan zat besi heme, yang banyak ditemukan pada daging merah dan produk hewani, tidak memiliki hubungan signifikan dengan lamanya waktu yang dibutuhkan perempuan untuk hamil.
Sementara itu, zat besi non-heme yang berasal dari sayuran dan suplemen makanan diketahui memiliki pengaruh moderat terhadap peluang kehamilan pada kelompok tertentu.
Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 4.600 perempuan dari Amerika Utara dan Denmark yang sedang menjalani program hamil. Para peserta diminta mengisi kuesioner terkait pola makan dan konsumsi suplemen selama satu tahun atau hingga mereka hamil.
Zat Besi Non-Heme Dinilai Lebih Bermanfaat pada Kondisi Tertentu
Dalam penelitian tersebut, peningkatan konsumsi zat besi non-heme dikaitkan dengan peluang kehamilan yang sedikit lebih tinggi pada perempuan yang sebelumnya pernah melahirkan.
Efek serupa juga terlihat pada perempuan dengan menstruasi berat atau siklus menstruasi pendek. Kondisi tersebut umumnya meningkatkan risiko kekurangan zat besi akibat kehilangan darah lebih banyak selama menstruasi.
Profesor epidemiologi Elizabeth Hatch menyebut perempuan yang merencanakan kehamilan lebih disarankan fokus memenuhi kebutuhan asam folat dibanding meningkatkan asupan zat besi secara berlebihan.
Menurutnya, pemeriksaan kadar zat besi penting dilakukan terutama bagi perempuan dengan riwayat menstruasi berat agar kebutuhan nutrisi dapat disesuaikan secara tepat.
Studi 2025 Temukan Hubungan Positif Zat Besi dan Kesuburan
Temuan berbeda muncul dalam penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica pada April 2025.
Studi kohort observasional retrospektif tersebut meneliti perempuan dengan infertilitas dan defisiensi zat besi. Hasil penelitian menunjukkan pemulihan cadangan zat besi berhubungan positif dengan peningkatan angka kehamilan dan kelahiran hidup.
Selain itu, perempuan yang mendapatkan terapi kekurangan zat besi juga tercatat memiliki risiko keguguran lebih rendah dibanding kelompok yang tidak mendapatkan penanganan.
Temuan ini memperlihatkan bahwa zat besi mungkin memiliki peran penting bagi perempuan yang memang mengalami defisiensi mineral tersebut.
Ahli Sebut Suplemen Zat Besi Belum Bisa Direkomendasikan untuk Semua Perempuan
Spesialis kesuburan dan ahli endokrinologi reproduksi, Eric Surrey, menjelaskan beberapa penelitian memang menunjukkan perempuan yang mengonsumsi suplemen zat besi memiliki risiko infertilitas ovulasi lebih rendah.
Infertilitas ovulasi merupakan kondisi ketika tubuh mengalami gangguan dalam menghasilkan sel telur sehat untuk proses pembuahan.
Meski demikian, para ahli menilai penelitian lebih lanjut masih diperlukan sebelum suplemen zat besi direkomendasikan secara umum sebagai peningkat kesuburan.
Eric Surrey menekankan pentingnya menjaga kadar zat besi tetap normal sebelum kehamilan karena mineral tersebut dibutuhkan untuk mendukung perkembangan janin dan mencegah anemia pada ibu hamil.
Konsumsi Suplemen Zat Besi Sebaiknya Berdasarkan Pemeriksaan Dokter
Ahli kesehatan menyarankan perempuan yang menjalani program hamil tidak mengonsumsi suplemen zat besi secara sembarangan. Kebutuhan zat besi setiap orang dapat berbeda tergantung kondisi kesehatan, pola makan, dan riwayat medis.
Pemeriksaan laboratorium biasanya diperlukan untuk mengetahui apakah tubuh mengalami kekurangan zat besi atau tidak. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya defisiensi, dokter dapat menentukan dosis suplemen yang sesuai.
Sebaliknya, jika kadar zat besi sudah cukup, konsumsi suplemen tambahan mungkin tidak diperlukan. Dalam kondisi tersebut, vitamin prenatal harian biasanya sudah mampu memenuhi kebutuhan nutrisi dasar sebelum kehamilan.
Zat Besi Tetap Penting untuk Kesehatan Ibu dan Janin
Meski hubungan zat besi dengan peluang hamil masih diperdebatkan, mineral ini tetap memiliki peran penting dalam kesehatan reproduksi perempuan. Zat besi membantu pembentukan sel darah merah dan mendukung suplai oksigen ke seluruh tubuh.
Kekurangan zat besi selama masa persiapan kehamilan dapat meningkatkan risiko anemia, kelelahan, hingga gangguan perkembangan janin pada awal kehamilan.
Karena itu, perempuan yang sedang menjalani program hamil disarankan menjaga pola makan seimbang dan berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum mengonsumsi suplemen tambahan.
Penelitian mengenai hubungan zat besi dan kesuburan masih terus berkembang. Namun, pendekatan terbaik saat ini adalah memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kondisi kesehatan masing-masing individu.
Baca Juga “Studi soroti risiko interaksi suplemen dengan obat“